Hari Kartini 2017: Sisi Spiritual Perjuangan Kartini Muda dan Alquran, Inspirasi Albaqarah yang Luar Biasa. Raden Adjeng Kartini atau nama gelar lain Raden Ayu Kartini adalah sosok pejuang dari kalangan wanita. Sejarah telah mencatat begitu gemilangnya karya Kartini dan gerakan emansipasi yang dia motori.. RA Kartini bukan hanya pejuang emansipasi wanita saja. Jauh dan kuat sumber inspirasinya tidak sekedar berkutit tentang perjuangan wanita. Tapi Kartini muda memiliki sumber kekuatan abadi yaitu Alquran sebagai bara api yang terus menyala untuk sebuah perubahan.

Salah seorang murid Kiai Sholeh Darat yang bukan berasal dari kalangan santri adalah Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Suatu hari, Kartini yang sedang berkunjung ke rumah pamannya, mengikuti pengajian Kiai Sholeh Darat yang sedang mengupas makna Surah Al Fatihah. Kartini yang tertarik pada cara pengajian Kiai meminta agar Al Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa jawa karena menurut Kartini “tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya”.


Ide itu disambut gembira Kiai Sholeh Darat, meskipun dia tahu bahwa hal itu bisa membahayakannya dipenjara karena pemerintah Hindia-Belanda melarang segala bentuk penerjemahan Al Qur’an. Kiai Sholeh menerjemahkannya dengan menggunakan huruf pegon atau Arab gundul sehingga tak dicurigai penjajah. Kitab tafsir dan terjemahan itu diberi nama kitab Farid Ar-Rahman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa jawa dengan aksara Arab. LIHAT JUGA: DP BBM HARI KARTINI 21 APRIL.

Oleh Kiai Sholeh Darat kitab itu dijadikan sebagai hadiah untuk perkawinan R.A. Kartini dengan bupati Rembang, R.M. Joyodiningrat. Saat menerima kitab itu Kartini berucap, “Selama ini surah Al Fatihah gelap artinya bagi saya. Saya tak mengerti sedikit pun maknanya. Tetapi sejak hari ini, dia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkan ke dalam bahasa jawa yang saya pahami.”

Berkat terjemahan Faid Ar-Rahman itu pula Kartini terpikat pada satu ayat yang menjadi favoritnya, yakni “orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” yang terdapat dalam Surah Al Baqarah ayat 257. Oleh sastrawan Sanusi Pane, buku kumpulan surat Kartini dalam bahasa Belanda Door Suisternis Tot Licht diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, mengacu pada ayat favoritnya itu.

Gelar Raden Adjeng atau Raden Ayu?

Dikutip dari Buku Sang Pencerah. Raden Ajeng Kartini, beberapa orang mengatakan lebih tepat menyebutnya dengan Raden Ayu, gelar bangsawan wanita yang telah menikah. RA Kartini adalah istri ketiga. Meninggal pada usia muda 25 tahun karena sejarah menyebutkan bahwa itu akibat dari komplikasi saat proses persalinan anak pertama. Dan anak tersebut lahir dengan selamat; tapi entah apakah selanjutnya keturunan langsungnya masih ada hingga sekarang.

Beberapa pakar sejarah dan ahli mengatakan kalau jauh sebelum era RA. Kartini, telah ada “pejuang-pejuang” wanita. Yang berjuang mendirikan pesantren bahkan angkat senjata macam Cut Nyak Dien. Tidak ada hari Dewi Sartika, atau hari Cut Nyak Dien. Dengan “karya lebih minim”, Raden Ayu Kartini lebih “populer” untuk emansipasi. Sekolah Kartini juga bukan Raden Ayu Kartini yang membuatnya sendiri, tapi semacam “fans” setelah beliau wafat. Tapi mungkin, mungkin karena momen dan pemikiran Beliau yang banyak tertuang dalam bentuk surat lebih banyak dikenal masyarakat Hindia bahkan dunia pada saat itu; maka kemudian RA. Kartini lebih terkenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan Indonesia hingga saat ini.

BACA JUGA:

Inspirasi wanita muda sangat kuat hingga sekarang. Jaman berubahpun nilai tetap bertahan. Teknologi berkembangpun cita-cita Kartini akan senantiasa ada dan hadir. RA Kartini memiliki kekuatann besar dalam mengerakkan jaman dan perubahan. Itulah Alquran yang menjadi inspirasi Kartini muda hingga sekarang. Baca juga: Profil Kartini dan sekolah Wanita [M. Anis – WartaSolo.com]