5 Penyebab Perut Buncit yang Sering Tidak Kita Sadari, Tulisan Lengkap yang Akan Membuat Anda Yakin Kecilkan Perut



penyebab perut buncit wartasolo.com

5 Penyebab Perut Buncit yang Sering Tidak Kita Sadari, Tulisan Lengkap yang Akan Membuat Anda Yakin Kecilkan Perut. Bagaimana kondisi perut Anda? Sixpack atau sedikit maju? Perut buncit memang sering menghampiri siapapun setelah menikah. Bahkan sebelum menikahpun perut buncit juga menghampiri seseorang. Nyaman tidaknya perut buncit tidak semua orang menganggapnya menjadi masalah. Ulasan kali ini di fokuskan kepada penyebab buncitnya laki-laki.

Tidak sedikit orang menganggap perut buncit menjadi ancaman tersendiri bagi yang mengalaminya. Banyak cara yang akhirnya menjadi jalan untuk memperkecil perutnya agar kembali seperti semula. Seperti laki-laki pasca menikah banyak yang mengalami perut melar, dulunya olah raga sedikit berat bisa dilalui dengan mudah sekarang perut buncit menjadi kendala. Wanita juga seperti kondisi setelah melahirkan melarnya perut menjadi perhatian tersendiri. Nah kalau sebelum menikah sudah melar? Faktor genetik setidaknya menjadi alasan mengapa adanya perut buncit.

BACA JUGA:

Inilah 5 penyebab Perut Buncit pada pria, antara lain:

Perubahan pola hidup dan berkurangnya aktifitas fisik. Acara Konferensi Cardio Metabolic Conference 2011 di JCC membahas mengenai penyebab terjadinya Obesitas Sentral ini. Menurut Dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K-KV, FINASIM, anggota PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia), kondisi Obesitas Sentral yang terjadi banyak dialami oleh pria. Terjadinya perubahan pola hidup dengan aktifitas fisik yang berkurang, bisa menjadi penyebab seseorang berisiko Obesitas Sentral. Pola makan yang tidak benar adalah penyebab utama pertambahan lingkar perut pria. Kebiasaan hidup yang kurang aktifitas disertai mengkonsumsi makanan yang berlebih dari energi yang dibutuhkan, membuat sisa kalori disimpan sebagai lemak dalam sel-sel lemak. Lemak menumpuk di seluruh tubuh, termasuk daerah perut, dan akan meningkat seiring pertambahan berat badan dan gaya hidup yang buruk. Banyak pasangan yang memiliki kebiasaan makan malam bersama keluarga. Makan malam ini bisa memicu timbunan lemak. Untuk mengatasinya, anda bisa mengganti kegiatan makan malam dengan kegiatan yang bisa membakar kalori dalam tubuhnya, seperti mengikuti kelas salsa atau liga atletis.

Banyak mengkonsumsi karbohidrat dan makanan berlemak. Menurut Susana, STP, MSc, PD.Eng, Head of Nutrifood Research Center Division, umumnya, perut buncit itu terjadi karena pola makan tidak teratur. Hal ini biasa dialami oleh pria pekerja yang hobi makan, terutama saat stres, namun tidak diimbangi dengan olahraga teratur. Kebiasaan pria Indonesia yang mengkonsumsi karbohidrat, seperti nasi terlalu berlebihan saat makan merupakan salah satu pemicu terjadinya perut buncit. Asupan karbohidrat di luar kapasitas akan menjadi lemak karbohidrat. Sebaiknya mereka yang memiliki perut buncit menghindari konsumsi karbohidrat berlebih dan menghindari makanan digoreng. Makanan dipanggang atau dikukus lebih baik daripada makanan yang melalui proses penggorengan. Karena, dalam minyak terkandung banyak lemak yang akan menumpuk dalam tubuh. Keadaan ini akan semakin “sempurna” bila tidak diimbangi dengan olahraga. Kalori berlebih ini tersimpan dalam banyak makanan rendah serat maupun tinggi lemak jenuh. Makanan seperti olahan daging, beberapa jenis margarin, goreng-gorengan terutama dengan minyak goreng yang digunakan berulang, sayur kalengan, beberapa makanan ringan atau kue daging merah. Lemak yang aman bagi tubuh adalah “Monounsaturated Fatty Acids” (MUFA). Fungsi MUFA adalah menghancurkan lemak di perut. MUFA banyak terdapat di minyak zaitun, kacang-kacangan, alpukat, dan “dark chocolate”.

Faktor Usia Sudah, hal ini sudah menjadi hukum alam, bila semakin bertambahnya usia seseorang, secara alami aktifitas yang dilakukan akan berkurang. Selain itu, massa otot pun akan berkurang ketika latihan sudah kurang intens. Kedua faktor ini dapat menyebabkan penambahan berat badan terutama pada lingkar perut. Aktifitas yang berkurang bila tidak diimbangi dengan mengurangi asupan kalori, hasilnya semakin bertambah usia seseorang, maka semakin bertambah lingkar perutnya. Menurut Ralph Girson, SpPD, dari RS Royal Progress, Jakarta, pengukuran lingkar perut sebenarnya merupakan salah satu metode menilai jaringan lemak di perut. Tujuannya untuk mengetahui apakah seseorang telah masuk dalam kategori berisiko obesitas dan terjadi komplikasi metabolik. Batasan lingkar perut yang ditetapkan oleh WHO, untuk orang Asia Pasifik adalah di bawah 90 cm untuk laki-laki dan di bawah 80 cm untuk wanita.

Minuman beralkohol akibatkan perut buncit yang dikenal dengan ungkapan “perut bir” (beer belly). Ini bukanlah mitos. Faktanya, mengonsumsi alkohol berlebih menyebabkan tubuh kurang efisien dalam membakar lemak. Lemak pun semakin banyak tertimbun dalam tubuh seiring berjalannya waktu dan kebiasaan mengonsumsi alkohol yang terus berjalan. Apabila pasangan anda seorang penggemar minuman keras, bujuk dia agar menguranginya secara perlahan. Karena ternyata minuman beralkohol mengandung banyak kalori. Gantilah dengan air putih. Ahli gizi mengatakan asupan cairan tambahan bisa membantu mengurangi nafsunya untuk mengkonsumsi bir dan mengkonsumsi makanan.

Penumpukan lemak di perut. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh “Lawson Health Research Institute” menyebutkan bahwa hormon perangsang nafsu makan dan pengatur proporsi energi yang disimpan dalam bentuk lemak, NPY atau neuropeptide-Y juga diproduksi oleh lemak perut. NPY menghasilkan ulang sel-sel perkusor sel lemak, yang kemudian berubah menjadi sel-sel lemak. Obesitas kemudian seperti lingkaran setan, di mana seseorang menjadi makan lebih banyak karena hormon NPY yang dihasilkan oleh lemak perutnya. Padahal NPY juga menghasilkan sel-sel lemak lebih banyak untuk ditumpuk menjadi lemak perut. Di dalam perut terdapat organ pencernaan seperti, lambung, usus dua belas jari, usus halus, usus buntu, hingga usus besar yang merupakan bagian utama sistem pencernaan manusia. Berikut juga organ hati, ginjal, pankreas, dan limpa, pendukung proses pencernaan. Ketika mengonsumsi makanan, organ pencernaan dan organ pendukung mengurai makanan hingga menjadi zat-zat yang dibutuhkan sel serta tubuh. Namun jumlah asupan dari zat tersebut bisa terjadi selisih, baik disebabkan oleh jumlah makanan yang terlalu banyak maupun proses mencerna yang kurang optimal. Bahan makanan dengan kandungan gula atau karbohidrat, dihasilkan gula di dalam darah. Kemudian pankreas mengeluarkan ensim insulin untuk membongkar menjadi energi yang dibutuhkan sel. Bila aktifitas gula darah kurang optimal karena kurangnya efektifitas enzim insulin oleh lemak dalam darah atau jumlah asupan zat gula terlalu banyak, maka sisa gula tersebut akan tersimpan sebagai lemak dalam tubuh (visceral fat).

Informasi di atas membuat siapapun Anda tidak menolak lagi usaha menjaga perut agar tetap ideal. Perut buncit akan tetap buncit bila pola pikir dan pola hidup tidak mencemirkan hal senada. BACA JUGA: Pilih Cara Ini untuk Mengatasi Perut Buncit Anda: 15 Cara yang Aman, Mudah dan Murah (AMM)[M. Anis – WartaSolo.com]