Kisah Nabi Ayyub: Kesabaran Tanpa Batas Menghadapi Cobaan. Seberapa kuat kita menghadapi cobaan dan ujian dari Allah SWT seiring kualitas iman kita pada-Nya. Tak sedikit pula cobaan kita hadapi dengan canda gurau dan keluhan. Maka tidak heran banyak manusia jatuh ternista ketika ujian menghampirinya. Ujian dari Allah adalah bukti kasih sayang-Nya. Kepada siapa dia akan mendekat ketika cobaan datang. Apakah kepada Allah atau selain-Nya. Kisah nabi Ayub memberikan pelajaran paripurna sebuah kesabaran.

Anggapan ketika ditimpa kesusahan adalah mendapat musibah Allah tidaklah benar. Bahkan jarang sekali kita mengatakan bahwa nikmat yang diberikan Allah itu sebenarnya juga merupakan ujian dari Allah. Ada diantara kita yang sanggup menghadapi ujian itu dan ada pula yang tegar dan sabar menghadapinya. Sabar inilah yang sudah menjadi bukti kuatnya seseorang menghadapi cobaan besar dan hampir-hampir saja tidak masuk akal orang bisa memikulnya.


Allah mencintai hamba-hamba-Nya dengan cara yang unik dan berbeda-beda. Semakin tinggi ketakwaan seorang hamba, semakin unik cara Dia mencintainya. Salah satunya adalah Nabi Ayub. Seorang nabi yang diuji oleh Allah dengan harta, keluarga serta badannya.

BACA JUGA: Kisah Nabi Sulaiman Pinsan saat Bertemu Semut

Ayyub adalah seorang Nabi yang sangat kaya raya. Istananya megah, rezekinya berlimpah, istri dan anaknya sehat wal’afiat. Yang lebih penting dalam kemakmurannya itu Ayyub tetap menjadi seorang hamba Allah yang saleh dan kuat ibadahnya.

Kekayaannya yang melimpah ruah dan rumah tangganya yang sakinah, tidak menjadikan Ayyub lalai atau mabuk. Dia bahkan semakin tekun dengan bersujud dan berbakti.Demikian juga istrinya yang bernama Rahmah.

Suatu saat ketika para malaikat membicarakan manusia dan sejauh mana mereka beribadah kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata: “Tidak ada di muka bumi ini seorang yang lebih baik daripada Nabi Ayub. Beliau adalah orang mukmin yang paling sukses, orang mukmin yang paling agung keimanannya, yang paling banyak beribadah kepada Allah SWT dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dan selalu berdakwah di jalan-Nya.” Para Malaikat sampai kagum melihat ketaatan Nabi Ayyub as. Namun sebalikya Iblis hatinya merasa sangat panas dan ingin mencoba menggoda Ayyaub dan keluarganya.

Syaitan mendengarkan pembicaraan para malaikat lalu mereka mencoba mendatangi nabi Ayyub untuk menggodanya. Tetapi karena keimanannya kepada Allah, Syaitan kesulitan mendapatkan jalan untuk mengganggunya.

BACA JUGA: Kisah Masuk Islam Hercules, Preman Tanah Abang yang Jatuh Hati Pada Islam

Ketika Syaitan berputus asa dari mengganggu Nabi Ayyub, ia berkata kepada Allah SWT: “Ya Rabbi, hambaMu Ayyub sedang menyembah-Mu dan menyucikanMu. Namun, ia menyembahMu bukan karena cinta, tapi ia menyembahMu karena kepentingan-kepentingan tertentu. Ia menyembahMu sebagai balasan kepadaMu karena Engkau telah memberinya harta dan anak dan Engkau telah memberinya kekayaan dan kemuliaan. Sebenarnya ia ingin menjaga hartanya, kekayaannya, dan anak-anaknya. Seakan-akan berbagai nikmat yang Engkau karuniakan padanya adalah rahasia dalam ibadahnya. Ia takut kalau-kalau apa yang dimilikinya akan binasa dan hancur. Oleh karena itu, ibadahnya dipenuhi dengan hasrat dan rasa takut. Jadi, di dalamnya bercampur antara rasa takut dan tamak, dan bukan ibadah yang murni karena cinta.”

Lalu Allah pun berkata kepada iblis “Sesungguhnya Ayyub adalah hamba yang mukmin dan sejati imannya. Ayyub menjadi teladan dalam keimanan dan kesabaran. Aku membolehkanmu untuk mengujinya dalam hartanya. Lakukan apa saja yang engkau inginkan, kemudian lihatlah hasil dari apa yang engkau lakukan.”

Lalu Iblis pun datang kepada nabi Ayyub lalu menghancurkan semua harta-hartanya. Keadaan nabi Ayyub sekarang menjadi fakir. Lalu nabi Ayyub pun berkata “Oh musibah dari Allah SWT. Aku harus mengembalikan kepada-Nya amanat yang ada di sisi kami di mana Dia saat ini mengambilnya. Allah SWT telah memberi kami nikmat selama beberapa masa. Maka segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat yang diberikannya, dan Dia mengambil dari kami pada hari ini nikmat-nikmat itu. Bagi-Nya pujian sebagai Pemberi dan Pengambil. Aku dalam keadaan ridha dengan keputusan Allah SWT. Dia-lah yang mendatangkan manfaat dan mudharat. Dia-lah yang ridha dan Dialah yang murka. Dia adalah Penguasa. Dia memberikan kerajaan kepada siapa yang di kehendaki-Nya, dan mencabut kerajaan dari siapa yang dikehendaki-Nya; Dia memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya.”

BACA JUGA: Kisah Muallaf Misionaris Kristen Dr. Gary Miller, Berusaha Mencari Kesalahan Al Quran, Berakhir Jadi Muslim

Iblispun kemudian turun menghancurkan segala milik Ayyub. Semua kebun dan tanahnya yang dulu subur kini menjadi kering dan terbakar. Binatang ternaknya terserang wabah yang kemudian mati semua.

Setelah itu Iblis datang menemui Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua yang nampak bijaksana.

“Tuhan yang engkau sembah setiap hari ternyata tidak bisa menolongmu sama sekali. Aku sangat kasihan padamu Ayyub. Cobalah kau mencari Tuhan lain yang mungkin dapat menolongmu.” kata Iblis.

Mendapat bujukan-bujukan Iblis itu, Ayyub tidak tergoda sama sekali,bahkan semakin tekun dia bersujud. Dia percaya segala kenikmatan yang telah direguknya adalah pemberian Tuhan dan Tuhan berhak mengambilnya sewaktu-waktu dan kapanpun.

Melihat semua itu Iblis menjadi kecewa dan marah. Dia menghadap Tuhan dan berkata:

“Ayyub masih tetap taat kepada-Mu karena dia masih punya anak.Aku akan membinasakan seluruh anak Ayyub. Barulah nanti Kau tahu bahwa iman Ayyub tidak seberapa kuatnya.”

Setelah usahanya gagal iblis datang kepada Allah lalu meminta ijin untuk membunuh anak-anak Nabi Ayub. Dengan izin Allah, iblis dibolehkan berbuat apapun kepada anak Ayub. Lalu iblispun menggoncangkan rumah Nabi Ayyub sehingga anak-anak Nabi Ayyub meninggal semua.

Maka Iblis itu segera menyebarkan wabah penyakit dan bencana. Semua anak Ayyub meninggal, istana tempat tinggal mereka hancur hingga menjadi puing-puing karena gempa.

Melihat keadaan itu nabi Ayyub pun berdoa kepada Allah dan menyeru: “Allah memberi dan Allah mengambil. Maka bagi-Nya pujian saat Dia memberi dan mengambil, saat Dia murka dan ridha, saat Dia mendatangkan manfaat dan mudharat. Kemudian Ayyub pun sujud dan iblis lagi-lagi tampak tercengang dan merasa malu karena kesabaran Nabi Ayyub.

BACA JUGA: Mengenal Golongan Manusia yang Diharamkan Api Neraka

Melihat kejadian-kejadian yang menimpa dirinya, Ayyub hanya memandangnya dengan meneteskan air mata. Dari mulutnya hanya keluar ucapan tawakal dan pasrah diri.

Datanglah kembali Iblis yang menyamar sebagai orang tua.

“Begitukah balasan Tuhan atas ketaatan dan kekhusyukan ibadahmu? Kau memuji-muji keagungan-Nya dengan tak henti-henti, tetapi apa yang kamu dapatkan? Hanya bencana dan kesengsaraan.” Tanya Iblis.

“Dialah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil. Dia yang menghidupkan, Dia juga yang mematikan.” jawab Ayyub.

Iblis menjadi berang, dia kembali menghadap Tuhan.

“Ayyub tetap taat kepada-Mu karena dia sehat. Ayyub masih bisa bekerja dan masih bisa punya anak lagi. Kalau dia sakit parah, sehingga lenyap tenaga dan kesehatannya, pasti dia akan berpaling dari-Mu.”

Tidak cukup sampai disitu Iblis meminta izin lagi kepada Allah untuk mengganggu badan Nabi Ayyub sehingga sakit kulit di mana tubuhnya membusuk dan mengeluarkan nanah, bahkan keluarganya dan sahabat-sahabatnya mengucilkan kecuali isterinya. Namun lagi-lagi Nabi Ayyub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT. Beliau memuji-Nya pada hari-hari kesehatannya dan ia tetap memuji Allah SWT saat mendapatkan ujian sakit. Dalam dua keadaan itu, Nabi Ayyub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT.

BACA JUGA: Tulisan Salam yang Benar Menurut Islam, Penjelasan Singkat dan Ringan

Semua orang tak ada yang mau menjenguk atau mendekatinya karena bau tubuh Ayyub bisa membuat orang muntah-muntah, dan juga karena takut tertular penyakit yang menjijikkan itu.

Hanya Rahmah, istrinya, yang dengan sabar mendampingi Ayyub, merawatnya dengan baik. Kudis bernanah yang penuh dengan ulat dicucinya tiap hari. Padahal semua orang yang lewat harus mendekap hidungnya karena tak kuat mencium bau busuknya.

Akhirnya sampailah penderitaan Ayyub dan istrinya pada puncaknya. Orang kampung berduyun-duyun mendatangi rumah Ayyub. Dengan paksa dan disertai ancaman mereka mengusir Ayyub dan istrinya agar segera keluar dari kampung mereka. Dengan susah payah Rahmah menggendong suaminya dan tinggal di sebuah gubuk terpencil di tepi hutan.

Tiap hari Rahmah keluar menjual sisa-sisa barang miliknya untuk dibelikan makanan. Hingga akhirnya sisa barang yang dimilikinya ludes. Dalam keadaan kelaparan, Rahmah kemudian mencari pekerjaan, dia diterima disebuah pabrik roti. Tetapi, ketika diketahui bahwa dia adalah istri Ayyub, pemilik pabrik roti itu buru-buru memecatnya,takut kalau nanti rotinya gak laku.

Karena merasa putus asa Rahmah kemudian memotong rambutnya yang panjang dan ikal untuk dijual sekedar digunakan membeli roti. Ketika pulang ditengah jalan ia bertemu dengan seorang tabib.

“Hai Rahmah,engkau istri Ayyub bukan?” sapa tabib itu.

“Suamimu akan bisa sembuh jika dia mau minum sebotol arak. Bawalah ini berikan kepada suamimu!”

Tanpa pikir panjang lagi Rahmah menerima arak yang disodorkan tabib itu. Dengan perasaan gembira ia pulang dengan mempercepat langkahnya. Sesampai dirumah Rahmah langsung menemui Ayyub. Betapa terkejutnya dan marah Ayyub ketika melihat kepala istrinya yang telah di potong rambutnya untuk dijual. Lebih marah lagi ketika Rahmah menceritakan pertemuannya dengan seorang tabib di tengah jalan tadi.

BACA JUGA: Menjawab Salam Yang Benar Menurut Islam: Ulasan Singkat

“Dia memberikan obat agar kau dapat sembuh dari penyakitmu.” kata Rahmah.

“Obat apa itu?” tanya Ayyub tidak senang

“Arak.” jawab Rahmah

“Haram!” teriak Ayyub dengan murka. “Apakah kau akan menyeretku ke neraka, hah! Keluar kamu dan pergi dari sini! Awas, bila nanti badanku sudah sembuh, akan kucambuk kau seratus kali!”

Sambil menangis Rahmah keluar. Hatinya sangat sedih bukan karena diusir, tetapi karena memikirkan suaminya. Seandainya dia pergi siapa yang akan merawatnya? Dengan bingung dan gelisah Rahmah berkeliaran kesana kemari seharian. Menjelang sore,ia tak tak tahan lagi. Karena sangat cintanya pada suami, ia cepat-cepat kembali ke gubuknya.

Begitu memasuki gubuk Rahmah menjadi terkejut, Ayyub tidak lagi berada diatas pembaringannya.  Kemanakah dia? Siapakah yang membawanya? Sebab tidak mungkin suaminya itu bangun sendiri dari tempat tidurnya.

Rahmah menangis sedih sambil duduk bersedeku, dua telapak tangannya menutup wajahnya. Tiba-tiba sebuah tangan seorang lelaki mengelus pundaknya dengan mesra dari belakang. Rahmah menjadi terkejut,ia menoleh sambil menjerit. Di belakangnya telah berdiri seorang lelaki yang tidak dikenalnya, meskipun wajahnya mirip dengan suaminya ketika masih sehat dulu. Lelaki itu nampak cakep, bersih dan sehat. Bau tubuhnya pun sangat harum.

“Siapa engkau? Sungguh kurang ajar dirimu yang tak memiliki kesopanan!” Teriak Rahmah dengan marah.

” Aku Ayyub, suamimu.” jawab lelaki itu sambil tersenyum

“Ayyub….?” tanya Rahmah seakan tidak percaya.

” Ya. Ketika engkau pergi, tiba-tiba terpancar air di depanku. Hawanya panas dan berbau belerang. Aku diperintahkan Allah untuk mandi dengan air itu dan membersihkan badanku. Selesai mandi beberapa saat, sedikit demi sedikit kudis yang menempel di kulitku rontok. Kulitku kembali bersih seperti dulu. Dan inilah aku sekarang, suamimu.”

Betapa gembira dan bahagianya Rahmah melihat suaminya sembuh dari penyakitnya. Mereka kemudian berpelukan, merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang.

Setelah itu Ayyub mengambil dahan ranting kecil sebanyak seratus batang lalu diikat menjadi satu. Rahmah dipukulnya sekali untuk membayar ancamannya ketika marah kepada istrinya beberapa waktu lalu. Selanjutnya mereka hidup bahagia serta menurunkan Nabi-nabi di belakang hari.

BACA JUGA: Kisah Sukses Inspiratif: Mengintip Persaingan Bisnis di Saudi Arabia

Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia semulia Ayyub. Ia tak pernah membenci Allah dengan takdirnya, tak pula ia merasa bahwa Tuhan yang dicintainya itu tak adil terhadapnya. Semakin berat sakit yang dirasa, semakin cinta Ayyub kepada Allah. Dan mulianya Ayyub, semakin parah penyakitnya semakin ia tersenyum. Allah dan para malaikat pun kan tersenyum oleh kesabaran lelaki mengagumkan itu.

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)

Nabi Ayyub tetap ingat Allah dalam keadaan suka dan duka. Ketika dalam keadaan suka ia tetap mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikan Allah. Ketika dalam duka iapun tetap sabar, ikhlas dan keimanan beliau malah semakin bertambah.

Berbeda dengan kita, ketika kita ingin mencapai suatu kenikmatan dariNya kita sering berdoa meminta kepada allah. Sholat, zakat, puasa dan amalan-amalan lain rela kita lakukan tetapi setelah Allah memberikan kenikmatan kepada kita, kita perlahan-lahan “melupakanNya”.

Musibah yang menimpa kita menandakan cinta Allah kepada kita. Musibah merupakan pertanda Allah kepada kita untuk kembali “mengingatNya”. Allah takut kalau kita menjadi orang lalai karena kenikmatan; kenikmatan yang diberikanNya. Maka dari itu sabar dan ikhlaslah dalam menghadapi cobaan dari Allah. Jangan sedih ketika ada musibah dan jangan lalai ketika ada nikmat.

BACA JUGA: 10 Amalan Hari Jumat yang Disunnahkan

Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84)

Sambutlah saat duka cita Sebagai karunia. Karena suka maupun duka Datang daripadaNya. Bila itu datang dari Dia, Mengapa menolaknya? Tuhan selalu menyertai kita Dan mengawasi kita. Bila duka cita membawa manfaat, Ia memberi duka cita; Bila suka cita membawa manfaat, Ia memberi suka cita. Kedua-duanya kita peroleh Sesuai kehendak-Nya. Jangan bersedih karena duka Dan jangan lalai ketika suka.

Kisah Nabi Ayyub mengajarkan kepada kita hanya Allah SWT tempat bersandar. Hanya Allah saja ujung pangkal sebuah doa dan harapan. Hikmah besar ini akan menjadi pedoman hidup kita dalam menapaki setiap ujiaan yang akan kita hadapi. BACA JUGA: Debat Islam Kristen Singkat: Membuat Setiap Muslim Makin Kuat Imannya. [M. Anis – WartaSolo.com]