Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi, Mendekatkan Kriteria Sang Pilihan



Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi, Mendekatkan Kriteria Sang Piliha

Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi, Mendekatkan Kriteria Sang Pilihan. Meneladani sifat Nabi diambil dari seluk beluk yang BELIAU lakukan. Rasulullah SAW adalah sebaik-baik uswah tauladan yang kita jadikan contoh dalam melihat kriteria akhlak mulia yang mempesona.

Dalam setiap langkah manusia, meneladani sikap rosul adalah hal impian. Namun manusia tak lepas dari dosa dan salah, tiada salahnya jika kita menjadikan akhlaq rosul sebagai panduan.

Nah yuk, bareng-bareng kita belajar bersama. Simak ulasan tentang keindahan fisik dan akhlak nabi sebagai renungan dalam mencotohnya.

Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi, Mendekatkan Kriteria Sang Pilihan

Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi. Ummu ma’bad al –khuzaiyah pernah berkata tentang diri rasulullah. Menggambarkan beberapa sifat rasul dihadapan suaminya.

“Beliau sangat bersih, wajahnya berseri-seri, bagus perawakanya, tidak merasa berat karena gemuk, tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan, dimatanya ada warna hitam, bulu matanya panjang, tidak mengobral – mengobral bicara, lehernya panjang, matanya jelita, memakai celak mata, alisnya tipis, memanjang dan bersambung, rambutnya hitam, jika diam dia tampak berwibawa, jika berbicaraa dia tampak menarik, dia adalah orang yang paling elok dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat, bicaranya manis, rinci, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, bicaranya seakan-akan merjan yang tertata rapi dan landai, perawakannya sedang-sedang, mata yang memandangnya tidak lolos karena perawakannya yang pendek dan tidak sebal karena perawakannya yang tinggi, seakan satu dahan diantaara dua dahan, dia adalah salah seorang dari tiga orang yang paling menarik perhatian, paling bagus tampilannya, mempunyai rekan-rekan yang menghormatinya, jika beliau berbicara mereka menyimak perkataanya, jika beliau memberikan perintah, mereka bersegera melaksanakan perintahnya, dia orang yang ditaati, disegani, dikerumuni orang-orang, wajahnya tidak memberenggut dan tidak pula orang yang diremehkan.”

Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi. Ali bin Abi Thalib juga berkata menyifati diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang berperawakan sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulan (oval), bola matanya sangat hitam, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan, telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun (cepat), jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paing mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandanganya tentu segan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya.” Kemudian dia berbicara lagi, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.”

Al –Barra, berkata “Beliau adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling bagus akhlaqnya”

Ar – Rubayyi binti Mu’awwidz berkata, ”Saat melihat beliau seakan-akan aku sedang melihat matahari yang sedang terbit.”

Jabir bin Samurah berkata,”Aku pernah melihat beliau pada suatu malam yang cerah tanpa ada mendung. Kupandangi Rasulullah lalu ganti kupandangi rembulan. Ternyata menurut penglihatannku beliau lebih indah daripada rembulan.”

Abu Hurairah berkata, “Tidak pernah kulihat sesuatu lebih bagus daripada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekan-akan matahari berjalan di wajahnya dan tidak pernah kuliat seseorang yang jalannya lebih cepat daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan tanah menjadi landai bagi beliau. Kami sudah berusaha mencurahkan kekuatan, tetapi seakan-akan beliau tidak peduli.”

Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi, Akhlak yang Istimewa

Nabi lain daripada yang lain karena kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak sulit diketahui, lancer, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya, mengkhususkan pada penekanan-penekanan hukum, mengetahui logat -logat bahasa arab, berbicara dengan kafilah bangsa arab menurut logat masing-masing, berkat kekuatan datang dari ilahi dan dilantarkan lewat wahyu.

Keindahan fisik dan akhlak Nabi, beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan ketika memegang kekuasaan dan bersabar saat ditekan. Ini semua merupakan sifat-sifat yang diajarkan ALLAH.

Aisyah berkata, ”Jika Rasul harus memilih diantara 2 perkara, tentu beliau memilih yang mudah diantara keduanya, selagi itu bukan suatu dosa. Beliau tidak membalas untuk dirinya sendiri kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu beliau membalas karena Allah. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha.”

Diantara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliau yang sulit digambarkan bahwa beliau memberikan apa pun dan tidak takut menjadi miskin.

Ibnu Abbas berkata, ”Nabi adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau paling menonjol adalah pada bulan ramadhan.”

Jabir berkata, ”Tidak pernah beliau dimintai sesuatu, lalu menjawab, tidak.”

Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis di tempat pingitannya.”

Beliau tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke arah langit, pandangannya jeli, tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu, tidak menyebut nama seseorang secara jelas jika beliau dengar sesuatu yang kurang disenanginya, tetapi beliau bertanya, “Mengapa orang-orang itu berbuat begitu?”

Beliau memang pas seperti yang dikatakan Al-Farazdaq dalam syairnya,

“Menunduk karena malu dan menunduk karena enggan tiada berbiacara dengan seseorang kecuali saat tersenyum.”

Nabi adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya, dan paling besar amanahnya.

Nabi adalah orang paling tawadlu (merendahkan hati) dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk bersama orang miskin, memenuhi undanan hamba sahaya, duduk ditengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka.

Beliau adalah orang yang paling aktif memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling menyayangi dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, paling lurus akhlaknya, paling jauh dari akhlak yang buruk, tidak pernah berbuat kekejian dan menganjurkan kepada kekejian, bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan mengutuk, bukan termasuk orang yang suka membuat hiruk pikuk di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa tetapi memaafkan dan lapang dada, tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnya, tidak mengungguli hamba sayaha dan pembantunya dalam masalah makan dan pakaian, membantu orang yang justru seharusnya membantu beliau, tidak pernah membentak pembantunya yang tidak beres atau tidak mau melaksanakan perintahnya, mencintai orang-orang miskin dan suka duduk-duduk bersama mereka, menghadiri jenazah mereka, tidak mencela orang miskin karena kemiskinannya.

Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi, Ketika Berbicara

Hindun bin Abu Halah, ”Rasulullah tampak berduka, terus menerus berfikir, tidak punya waktu untuk istirahat, tidak berbicara jika tidak perlu, lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian mulutya dan tidak dengan ujung-ujungnya saja, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang luas maknanya, terinci tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dengan nada yang sedang-sedang, tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan, mengagungkan nikmat sekalipun kecil, tidak mencela sesuatu, tidak pernah marah jika ada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, tidak marah untuk kepentingan dirinya, lapang dada, jika memberi isyarat beliau memberi isyarat dengan seluruh telapak tanganya, jika sedang kagum beliau dapat membalik kekagumannnya, jika sedang marah beliau berpaling dan tampak semakin tua, jika sedang gembira beliau menundukkan pandangan matanya. Tawanya cukup dengan senyuman, yang senyumnya mirip dengan butir-butir salju.

Beliau selalu menahan lidahnya kecuali untuk hal-hal yang dibutuhkan, mempersatukan para sahabat dan tidak memecah belah mereka, menghormati orang-orang yang memang dihormati disetiap kaum dan memberikan kekuasaan kepadanya atas kaummnya.

Beliau tidak duduk dan tidak bangkit kecuali dengan dzikir, tidak membatasi berbagai tempat dan memilih tempat yang khusus bagi beliau, jika tiba disuatu pertemuan beberapa orang, beliau duduk di tempat yang paling akhir dalam pertemuaan itu dan beliau memerintahkan yang demikian itu, memberikan tempat tempat kepada setiap orang yang hadir daalm pertemuan.

Siapapun yang duduk bersama beliau atau mengajaknya bangkit untuk suatu keperluan, maka dengan sabar beliau melayaninya sehingga orang itulah yang beranjak dari hadapan beliau.

Keindahan Fisik dan Akhlak Nabi, Perkara yang Ditinggalkan

Beliau meninggalkan 3 perkara dari dirinya:

  1. Riya
  2. Banyak bicara
  3. Membicarakan sesuatu yang tidak perlu

Beliau meninggalkan manusia dari 3 perkara:

  1. Tidak mencela seseorang
  2. Tidak menghinanya
  3. Tidak mencari-cari kesalahannya

Kharijah binti Zaid berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia di dalam majelisnya, hampir tidak ada yang keluar dari pinggir bibirnya. Beliau lebih banyak diam, tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan cara yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya terinci, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Para sahabat tertawa jika beliau tersenyum, karena mereka hormat dan mengikuti beliau.”

Baca Juga:

Sungguh mulianya bila manusia bisa meneladani berbagai keindahan fisik dan akhlak nabi di atas. Keindahan fisik dan akhlak Nabi akan menuntun kita untuk mendekatkan sikap dan tingkah laku dalam meneladani Rasulullah SAW. Nabi Muhammad saw adalah sebaik-baik tauladan yang abadi. [Mega Boshpo – WartaSolo.com]