Cerpen Secarik Kertas dan Secangkir Kopi Untuk Dek Zii



Cerpen Secarik Kertas dan Secangkir Kopi Untuk Dek Zii

Cerpen Secarik Kertas dan Secangkir Kopi Untuk Dek Zii. Rintik hujan perlahan pun turun. Setelah sedari tadi siang langit dibalut oleh mendung. Sore itu aku hanya duduk sembari menghabiskan halaman per halaman novel yang berjudul Air Mata Surga. Novel kepunyaan Zii yang sebenarnya sudah kupinjem sejak dua minggu lalu, tapi baru sempat kubuka untuk membacanya. Sesekali tanganku pun harus mengusap rintik hujan yang menyelinap di kedua mataku. Sepertinya aku larut dalam cerita yang dihadirkan di novel tersebut.

“Belum dibalas juga,” keluhku setelah tak melihat ada pesan masuk di telepon genggamku. Lalu aku mencoba mengambil pembatas buku yang ada di atas meja dan kupindahkan di sela-sela halaman yang baru saja ku baca. Aku pun meletakkan novel tadi dan memilih untuk menyeruput kopi hitam yang panasnya sudah menguap dan perlahan lenyap.

“Kenapa Zii sama sekali tidak mau membalas smsku lagi,” gumamku lirih. Pikiranku pun menerawang jauh, mengingat beberapa waktu yang lalu, tentang peristiwa yang tak mengenakkan.

***

Zii tertawa, aku pun juga, sepertinya ia begitu senang hari itu. Aku dan Zii makan siang bersama sembari ngobrol ngalor ngidul tak jelas, kadang-kadang obrolan itu membuat kami lupa waktu, atau sering merasa kaget sendiri karena merasa waktu yang ada berjalan begitu cepat dan membuat kami sering menyudahi kebersamaan dengan menyisakan satu atau dua topik obrolan yang rasanya sangat sayang kalau harus ditunda perbincangannya. Tapi apa boleh buat, mungkin itu efek kalau aku dan Zii memang begitu dekat, jadi semuanya terasa begitu singkat dan nikmat.

“Kemarin Zii habis baca novel, bagus banget lho Mas?”

“Iyakah?”

“He em, Zii aja sempet nangis”

“Serius? Sejak kapan kamu jadi mellow?”

“Zii enggak pernah jadi mellow ya, nggak kaya Mas yang kerjaannya dikit-dikit nangis, nonton kartun aja nangis” Zii meledekku.

“Itu artinya Masmu ini lemah lembut, terus kenapa kamu menangis?”

“Karena ceritanya Mas, pokoknya mengharukan banget, tentang perjuangan seorang gadis kecil melawan kanker dan mimpinya untuk bisa keliling dunia hanya untuk menyebarkan lembaran-lembaran hafalan Al Quran kepada anak-anak yang ada di seluruh penjuru dunia, pokoknya bagus banget, Mas kudu baca!”

“Boleh, sepertinya Mas juga tertarik, ya udah, nanti Mas pinjem ya, sekalian nganterin kamu ke kost”

“Oke,” lalu Zii menyeruput susu coklat yang merupakan minuman favoritnya setelah kopi hitam. Maklumlah, Zii dulu begitu dekat dengan ayah, sedangkan ayah pun sangat gemar minum kopi hitam.

“Mas pernah jatuh cinta?” Zii tiba-tiba saja nyeletuk.

“Jatuh Cinta?”

***

Hari itu, semuanya berjalan seperti biasa. Tentang tugas kuliah yang kadang masih suka menumpuk, tentang rutinitas agenda yang sesekali terasa begitu menjenuhkan. Atau tentang jadwal-jadwal rapat bagi orang-orang yang sering menamai dirinya sebagai “aktivis”. Aku bisa dibilang masuk ke dalamnya, dulu kata banyak orang yang konon berpengalaman dan sukses, jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan belajar di kampus. Dan sepertinya saat itu aku kena doktrinnya, efeknya sekarang aku harus melakukan banyak rutinitas yang sebenarnya kalau dilihat-lihat banyak mahasiswa lain tidak melakukannya. Dalam artian aku masuk ke dalam golongan minoritas, tapi anehnya itu bertahan hingga sekarang, entahlah karena faktor apa.

“Kamu itu, nampaknya kemarin aku lihat Zii biasa aja, tapi kamu kok…” Arif tiba-tiba saja nongol. Sahabat dekat yang selalu paham dengan persoalanku.

“Aku juga sebenarnya biasa aja”

“Biasa dari mananya, biasa nangis kalau nonton film, ha ha,” Arif tertawa meledek.

“Asem, ngarang !” aku mengelak.

“ Sudahlah, nanti juga adekmu itu pasti bakal sms, telepon, atau bahkan nemuin dirimu,” Arif mencoba menenangkanku.

“Masalahnya sudah hampir dua minggu, Zii nggak mau respon smsku”

“Bisa jadi dia lagi nggak ada pulsa”

“Mmmm… tapi sepertinya ada, masa dua minggu nggak ada pulsa terus”

“Tapi ya dipastikan dulu” Arif kekeh untuk aku memastikan, sepertinya dia ingin aku lebih mengedepankan prasangka baik. Karena sepertinya sarannya tepat, maka aku menurutinya. Aku mencoba memastikan apakah Zii memang nggak ada pulsa atau memang dia masih belum mau memaafkanku.

Tanpa pikir panjang, aku mengambil telepon genggam Arif yang tergeletak di meja. Aku mengirim pesan sederhana dengan mengatasnamakan Arif.

“Aku sudah kirim smsnya,”

“Sip, kita tunggu”

Sembari menunggu, aku dan Arif kembali melanjutkan menggarap LPJ kegiatan yang harus rampung pekan ini juga. Satu dua menit Zii nggak balas, hingga beberapa menit pun bahkan satu jam lewat Zii tetap nggak balas.

“Benar kan, Zii emang lagi nggak ada pulsa, nyatanya sampe sekarang Zii belum balas” Arif kembali meyakinkan.

Syukurlah kalau memang gitu, aku membatin.

Karena aku ada janji dengan orang, aku segera berkemas dan menunda sejenak garapan LPJ-annya. Segera aku pamitan ke Arif dan beranjak meninggalkan sekretariat. Setidaknya pikiranku sedikit tenang, kalau ternyata Zii belum membalas sms ku karena memang nggak ada pulsa.

“Sit sit sit,” tiba-tiba saja Arif menahan langkahku dan menunjukkan layar di telepon genggamnya.

Ternyata memang dugaanku yang benar, dia masih belum mau memaafkan. Akhirnya, aku pun kembali melanjutkan langkah dan segera pergi.

***

Rintik hujan yang seharusnya syahdu, gerimis yang semestinya romantis, lalu satu buah novel kepunyaan Zii dan secangkir kopi hangat sepertinya tak cukup mampu membawa suasana yang lebih menentramkan. Tepat dua minggu aku dan Zii tidak pernah saling sapa lagi, meski itu sekedar melalui pesan singkat di telepon genggam. Pikiranku kian melayang-layang tak jelas, sesekali menerawang atau sekedar merenung tentang hal apa lagi yang harus ku perbuat. Sepertinya permintaan maaf melalui pesan singkat tak cukup untuk membuatnya mengeluarkan kata maaf, dan sayangnya ia pun tak pernah merespon ajakan untuk kemudian bertatap langsung. Permintaan maaf yang kusampaikan ke sahabat dekatnya pun tak pernah melahirkan kabar, kecuali sebuah sms yang kukirim dan tak pernah ada balasnya. Mungkin sahabat dekatnya juga sehati dengan Zii.

***

Aku harus sesegera mungkin meninggalkan kostnya Zii. Perlahan dan dengan langkah kehati-hatian aku menjauh dari teras kostnya. Untung saja nggak ada yang melihat, pikirku tenang. Kini posisiku sudah aman, setelah barusan menyelinap ke teras kostnya, aku kini telah berdiri cukup jauh dari kostnya Zii, tetapi jaraknya masih cukup bagi mata untuk melihat rumah dengan pagar berwarna hijau. Segera aku kirim pesan singkat ke Zii.

“Dek, tolong keluar ke teras dan tolong buka kotak yang berwarna biru!”

Aku sengaja menunggu dari seberang untuk memastikan kalau Zii mengambilnya. Tetapi sayang, sepuluh menit berlalu, tiga puluh menit juga telah lewat, bahkan aku tak melihat tanda-tanda Zii akan keluar di menit ke enam puluh. Sedang malam semakin larut, setidaknya tujuh menit yang lalu itu pukul sepuluh malam. Tetapi Zii tidak juga keluar. Aku sepertinya sudah tidak punya cara lagi untuk meminta maaf. Setelah cara dengan mengirimkan secarik surat dan secangkir kopi hitam pun telah dilakukan.

Teruntuk Fatimah Zahrah Azizah

Tak pernah aku melihat ada seorang bisa berjalan melainkan dia pernah terjatuh satu atau bahkan ratusan kali. Tak pernah pula ada seorang ibu yang pandai memasak makanan kesukaan anaknya kecuali dulu ia pernah salah memberi takaran garam saat ia sedang belajar memasak.

Dek, semuanya selalu meminta benar dan tepat, tetapi seringkali proses menuntut ada salah untuk kemudian kita ambil hikmahnya. Maka melalui tulisan sederhana ini, ingin aku sampaikan tentang kisah seorang Kakak yang sebenarnya sedang belajar mencintai adeknya, tapi sayangnya Kakak yang satu ini sedang berada di posisi yang salah dalam mengambil cara. Tetapi Kakak yang satu ini pun ingin menunjukkan penyesalannya dan permohonan maafnya atas cara yang tak tepat dalam proses belajar mencintai adeknya, cobalah kau lihat barang sejenak tentang bagaimana ia meminta maaf.

Maka Zii, seorang kakak itu adalah Masmu ini, yang masih terus dan akan terus belajar tentang cara yang tepat mencintaimu. Mas bukanlah Alm ayah yang sudah sangat lihai dalam mengambil sikap sebagaimana sewaktu Zii masih kecil, kamu memaksa mengambil kopi hitam kepunyaannya yang sebenarnya saat itu sedang ada tamu. Tapi cara ayah dulu melarangmu tak pernah membuatmu sakit hati atau malu. Bahkan saat itu kamu tersenyum karena jadi tahu tentang mana yang semestinya dan mana yang tak semestinya.

Zii, Mas hanya ingin menyampaikan permintaan maaf, bahwa rasa cintamu ke seseorang yang sempat kau sampaikan ke Mas tidak semestinya menjadi sebab kemarahan Mas yang sebenarnya tak berdasar. Saat itu yang Mas tahu hanyalah tentang kata ‘tidak’ dan ‘tidak’, ‘larang’ dan ‘larang’, serta ‘brontak’ dan ‘brontak’. Bukan tentang bagaimana dan bagaimana yang seharusnya.

Zii, pada kesempatan ini Masmu telah mengakui kesalahannya, Mas minta maaf karena terlalu preventif dan reaktif saat itu. Maka permohonan dari orang yang mengaku salah adalah kata maaf yang akhirnya keluar. Apakah kau tidak pernah rindu tentang waktu-waktu yang biasa kita gunakan untuk sekedar berbincang, apa kau tak ingin Masmu bisa menjaga amanah ibu dan alm ayah, yang mereka mengharapkan kita bisa saling akur dan saling menjaga.

Oh ya Zii, itu ada kopi hitam yang pastinya sudah dingin, sengaja Masmu menaburkan gula lebih banyak, biar kita bisa lebih fokus pada manis yang seharusnya, bukan malah pahit yang membuat kita tak nyaman.

Salam Sayang dan Maaf,
Masmu
Mohammad Raihan

 

Pengirim: Rio Tri Handoko, mahasiswa perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.