Waspadalah!! Pemberian Air Putih Pada Bayi. Seringkali kita menemukan kasus pemberian air putih pada bayi yang belum berumur 6 bulan. Sebelum usia 6 bulan seharusnya bayi diberi ASI ekslusif, karena ASI sudah bisa memenuhi kebutuhan bayi. Tanpa disadari pemberian air putih pada bayi ternyata mempunyai dampak bagi bayi itu sendiri, diantaranya:

INFEKSI BAKTERI. Pemberian air putih pada bayi 0–6 bulan berisiko membuat bayi terinfeksi bakteri jika air yang dipakai tercemar. Pencernaan bayi bisa terinfenksi bakteri dan menimbulkan diare pada bayi. Apabila pencernaan bayi sudah terinfeksi bakteri dapat diketahui dari feses bayi yang mengandung darah. Kemungkinan besar, infeksi itu muncul karena asupan air putih yang diberikan ibunya. Apalagi jika perlengkapan minumnya tidak higienis, juga cara memasaknya tidak tepat dan sudah tercemar bakteri.


GANGGU OTAK BAYI. Ginjal bayi 0-6 bulan belum berfungsi dengan baik, sehingga jika ia diberi air putih maka air seni akan membawa serta elektrolit dalam darah, misalnya natrium, yang sebenarnya berguna bagi tubuh. Jika kekurangan zat itu, bayi berisiko mengalami kejang. Semakin banyak elektrolit yang “terbuang” bersama urine dan keringat, semakin banyak risiko negatif yang dapat dialami. Alhasil, kalau bayi mengeluarkan banyak elektrolit dari semua organ tubuhnya, baik jantung, ginjal atau paru, temasuk otak, maka aktivitas otak dapat terganggu. Gejalanya, bisa berupa suhu tubuh rendah hingga kejang-kejang.

Baca Juga: Tips Merawat Bayi Kuning

                     Waspada Alergi Telur Pada Bayi

MERUSAK GINJAL. Bahaya lain bila bayi diberi air putih yaitu merusak ginjal. Fungsi ginjal sebagai pengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh belumlah sempurna pada bayi usia 0—6 bulan. Memang pada usia kehamilan 35 minggu, ginjal bayi sudah terbentuk, tapi belum berfungsi dengan baik. Begitu pun setelah bayi lahir. Walau bentuk ginjal sudah sempurna pada saat bayi dilahirkan. Hal ini bertahan hingga usia bayi 6 bulan. Lain halnya pada anak dan orang dewasa, ginjal sudah mengatur asupan cairan masuk dengan yang dikeluarkan. Misal, kalau banyak minum, ginjal akan mengatur sehingga berkemihnya sering. Atau pada saat hawa dingin, akan lebih sering buang air kecil. Sebaliknya, pada cuaca panas, kita cenderung lebih jarang buang air kecil. Intinya, ginjal mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dalam tubuh, semisal natrium, kalsium, dan lainnya. Tapi jika kejadiannya saat ginjal belum sempurna kerjanya sudah diberi air putih, tubuh bayi akan kelebihan air atau “keracunan” air. Karena air yang masuk tidak bisa diseimbangkan dengan yang dikeluarkan.

KERACUNAN. Memang benar bayi harus cukup minum, tapi bukan minum air putih yang diberikan kepada bayi. Sebab bayi usia 6 bulan ke bawah minum air putih justru akan merugikan si bayi itu sendiri. Bayi dibawah usia 6 bulan beresiko keracunan bila diberi air putih karena ginjal belum berfungsi dengan baik. Akibatnya, air putih yang diminumnya itu dapat membuat tubuhnya melepaskan sodium (mineral yang dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh). Padahal, kehilangan sodium dapat memengaruhi aktivitas otak. Ujung-ujungnya, bayi akan mengalami gejala keracunan, di antaranya suhu tubuh rendah, wajah membengkak dan bahkan kejang-kejang. Lantaran itu, Jennifer menegaskan, bayi yang minum ASI tidak perlu mengonsumsi air putih. Untuk bayi 0—6 bulan cukup ASI.

Jadi bagi ibu-ibu hindari kebiasaan memberikan air putih pada bayi dibawah usia 6 bulan. Karena dampak bagi bayi sangat tidak bagus. Semoga ulasan diatas bermanfaat. [YuQe – WartaSolop.com]