Maha Menteri Keraton Surakarta Segera Kumpulkan Kerabat Bahas Suksesi Paku Buwono XIII

Maha Menteri Keraton Surakarta Segera Kumpulkan Kerabat Bahas Suksesi Paku Buwono XIII

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tengah memasuki masa penting setelah wafatnya Sri Susuhunan Paku Buwono XIII. Di tengah suasana duka, Maha Menteri Keraton, Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan, menyampaikan rencana untuk segera mengumpulkan seluruh kerabat dan keluarga besar keraton guna membahas proses suksesi, yakni penentuan siapa yang akan menjadi penerus tahta selanjutnya.

Menurut Tedjowulan, langkah ini diambil bukan untuk memperuncing perbedaan, melainkan untuk menyatukan kembali keluarga besar Keraton Surakarta yang selama ini sempat mengalami dinamika internal. Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari pertemuan tersebut adalah menjaga kehormatan dan marwah keraton, agar proses transisi kekuasaan berjalan damai, bermartabat, dan berlandaskan nilai-nilai budaya Jawa. “Keraton ini rumah besar, tempat kita semua berpijak. Sudah seharusnya kita duduk bersama, bermusyawarah, dan memutuskan siapa yang benar-benar layak menjadi penerus tahta. Bukan saling rebut, tapi saling rangkul demi kemajuan keraton,” ujar Tedjowulan.

Baca juga: Drama Keraton Memuncak! Tedjowulan Serukan Rekonsiliasi: ‘Saling Rangkul, Bukan Saling rebut’

Saat ini, pihak keraton masih fokus pada prosesi adat dan upacara tradisi untuk mengenang wafatnya PB XIII, termasuk peringatan 40 hari. Setelah semua rangkaian adat selesai, barulah pembahasan suksesi akan dilakukan secara resmi dengan melibatkan seluruh pihak terkait. Tedjowulan berharap, proses ini bisa menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan di antara para kerabat dan abdi dalem, bukan malah menimbulkan perpecahan.

Terkait dasar hukum dalam pengelolaan dan tata kelola keraton, Tedjowulan menyinggung keberadaan Surat Keputusan (SK) Menteri Dalam Negeri Nomor 430-2933 Tahun 2017 tentang Penetapan Status dan Pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. SK ini menjadi payung hukum resmi yang mengatur kedudukan dan pengelolaan keraton agar tetap terjaga sebagai pusat budaya dan tradisi, serta selaras dengan sistem pemerintahan nasional. Dalam keputusan tersebut, disebutkan bahwa pengelolaan keraton berada di bawah kepemimpinan Paku Buwono XIII bersama Maha Menteri Tedjowulan, dengan koordinasi pemerintah pusat dan daerah.

Melalui dasar hukum ini, Tedjowulan menegaskan bahwa setiap langkah dalam proses suksesi harus sesuai dengan ketentuan dan arahan yang berlaku. Dengan demikian, keraton tidak hanya menjaga legitimasi adat, tetapi juga memastikan keteraturan administratif dan hubungan baik dengan pemerintah. “Kita harus mengikuti aturan yang ada. Semua keputusan besar seperti suksesi ini harus memiliki dasar hukum yang kuat, agar tidak ada lagi perdebatan di luar garis adat dan pemerintahan,” tegasnya.

Pasca wafatnya PB XIII, sejumlah kabar dan spekulasi mengenai calon penerus mulai beredar di masyarakat, termasuk munculnya nama Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purbaya, putra bungsu PB XIII, yang disebut-sebut sebagai calon kuat PB XIV. Namun Tedjowulan mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada rumor. Ia menekankan bahwa penentuan penerus harus melalui proses musyawarah resmi keluarga besar keraton, bukan berdasarkan klaim sepihak. Menurutnya, menjaga suasana tetap kondusif adalah hal yang sangat penting agar keraton tidak terpecah dan tetap menjadi teladan bagi masyarakat luas.

“Kita tidak ingin keraton ini ribut. Kalau sampai ada perpecahan, pemerintah bisa saja turun tangan dan mengambil alih. Itu bukan yang kita harapkan. Yang kita inginkan adalah keraton yang damai, bersatu, dan menjadi kebanggaan bersama,” ungkap Tedjowulan dengan tegas.

Upaya yang dilakukan Tedjowulan ini sekaligus mencerminkan semangat untuk menyatukan dua kubu yang sebelumnya sempat memiliki perbedaan pandangan di internal keraton. Ia mengajak semua pihak untuk menatap ke depan dengan semangat kebersamaan, menjaga warisan budaya, serta memperkuat kembali peran Keraton Surakarta sebagai penjaga nilai-nilai luhur dan identitas budaya Jawa.

“Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bersatu, bukan saling menyalahkan. Suksesi ini bukan ajang perebutan, melainkan langkah untuk memastikan keberlanjutan tradisi dan kehormatan leluhur kita. Jika semua bersatu, keraton akan kuat, budaya Jawa akan tetap hidup, dan Keraton Surakarta akan kembali bersinar,” tutup Tedjowulan.