Klaten, WartaSolo.com – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Klaten pekan lalu ternyata juga menimbulkan kerugian bagi para petani karena sawahnya terendam. Terendamnya sawah tersebut ternyata membuat kualitas padi menurun, bahkan beberapa wilayah gagal panen atau puso.

Bencana banjir yang melanda 5 kecamatan di Kabupaten Klaten ini telah membuat kualitas dan kuantitas padi menurun drastis. Tak hanya itu, petani di beberapa wilayah yang sawahnya terendam mengaku mengalami puso atau gagal panen karena baru merkatak sudah terendam banjir.


Berdasarkan informasi yang telah berhasil dihimpun, 1000 hektare padi di Klaten mengalami dampak banjir berupa penurunan kualitas yang signifikan. Wilayah yang paling parah terkena dampak banjir ini adalah Kecamatan Wedi yang mencapai sekitar 378 hektar sawah terkena dampak banjir.

Informasi ini telah dikonfirmasi oleh Camat Wedi yaang mengatakan bahwa total lahan padi yang terkena dampak banjir pekan lalu mencapai 378 hektare yang tersebar di beberapa wilayah, termasuk desa melikan. Seorang petani desa Melikan, Wedi, Sarno mengatakan bahwa 90% lahan padi di desa tersebut puso dengan total luas lahan mencapai 82 hektare.

Dampak penurunan kualitas padi dan ancaman gagal panen ini juga diaalami oleh beberapa petani dari Kecamatan Bayat. Beberapa petani mengantisipasi agar padi tidak membusuk dengan melakukan panen lebih awal meski bulir-bulir padi belum benar-benar matang. Hal ini sengaja dilakukan oleh para petani agar padi tidak membusuk akibat terlalu lama terendam banjir.

Seperti yang dilansir dari KR Jogja pada Senin (03/03/2014), Wahyu Prasetyo, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Klaten mengamini bahwa luas lahan padi di wilayahnya yang terkena dampak banjir mencapai total 1000 hektare. Saat ini pihaknya sedang menghitung taksiran kerugian yang dialami oleh para petani.