Solo, WartaSolo.com – Pembukaan kembali Museum Radya Pustaka hampir dipastikan mundur dari target yang sudah ditetapkan sebelumnya. Seperti yang kita ketahui, Museum Radya Pustaka sedang direnovasi dan targetnya akan selesai pada bulan Maret mendatang. Namun karena pelbagai kendala, pembukaan Museum Radya Pustaka ini terancam muncur.

Museum Radya Pustaka merupakan salah satu museum tertua di Indonesia yang saat ini sedang direnovasi dan ditata ulang secara menyeluruh dengan konsep yang baru. Sejauh ini, penataan ulang koleksi Museum Radya Pustaka ini baru mencapai 50% saja dan ini tak akan selesai hingga bulan Maret mendatang.


Penataan kembali koleksi Museum Radya Pustaka ini memakan waktu cukup lama karena panataan ini meliputi pengelompokan koleksi Museum Radya Pustaka yang lebih rinci berdasarkan tematik tahun pembuatan dan kriteria laimnnya. Sebelum Museum Radya Pustaka direnovasi, penataan koleksinya hanya berdasarkan jenis koleksi saja, sehingga tak terlalu rumit.

“Dalam penataan ulang ini, pengelompokan lebih rinci berdasar tematik tahun pembuatan, fungsional dan sebagainya. Ini memerlukan pengelompokan yang cermat dengan meneliti satu per satu koleksi sebelum didisplai di almari pajang,” kata Purnomo Subagyo, Ketua Komite Museum Radya Pustaka (KMRP).

Sistem penataan baru ini tak terlepas dari konsep baru yang akan diusung oleh Museum Radya Pustaka. Purnomo Subagyo menambahkan bahwa saat ini penataan tersebut masih belum mencapai tataran ideal dan belum dilengkapi dengan informasi yang diperlukan berupa deskripsi agar dapat memberikan gambaran yang jelas pada pengunjung.

Setelah semua koleksi yang dimiliki Museum Radya Pustaka tertata dengan rapi, proses dilanjutkan dengan penyusunan deskripi singkat untuk yang akan ditempatkan disetiap koleksi. Ini dimaksudkan untuk memudahkan pengunjung mengetahui informasi mengenai koleksi yang ada di Museum Radya Pustaka.

Secara umum, konsep ideal yang diinginkan adalah membuat Museum Radya Pustaka ini menjadi sesuatu yang hidup dan menarik. Selama ini Museum Radya Pustaka hanya dianggap gudang barang-barang antik karena tak dilengkapi dengan informasi yang memadai, dikutip dari KR Jogja, Kamis (27/02/2014)