WartaSolo.com – Ustad Guntur Bumi kini namanya telah tercoreng akibat pengaduan beberapa pasiennya yang merasa menjadi korban penipuan. Salah seorang pasien UGB bernama Hj. Yanelly (74) telah mendatangi Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan didampingi beberapa lowyer untuk menyampaikan kejadian yang telah diamai dirinya dan ibunya Nurcayati (94) saat berobat di Padepokan Silaturahmi Ustad Susilo Wibowo alias Ustad Guntur Bumi (UGB).

Yarnelly mengaku mengalami kerugian sebesar 32 gram emas dan juga uang tunai Rp. 1 juta rupiah yg pada saat itu sebagai uang pendaftaran Rp. 500.000 per orang. Bukan hanya masalah uang namun juga cara pengobatan yang dilakukan UGB terlihat ganjil.


Seperti WartaSolo kutip dari Detik, Kamis (27/2/2014) Kejadian ini bermula saat  Jumat (7/2) siang saat Hj.Yarnelly dan Nurcayati selaku orang tuanya yang ditemani oleh anaknya Suta, dan menantunya Mamik berobat ke Padepokan milik Ustad Guntur Bumi (UGB). Terdapat keluhan sakit pada kaki yang hampir dua tahun dia rasakan, namun saat di obati staf UGB mengatakan bahwa sakit yang dideritanya ini merupakan “kiriman” dari orang jahat berupa santet.

Tentu saja ini membuatnya merasa heran, karena menurut dokter keluhan kakinya ini karena bergeser dan saat di padepoikan itu kakinya hanya dioles dengan balsem saja. Setelah itu kejadian yang semakin membuatnya ngeri ketika staf UGB mengeluarkan kawat – kawat halus dari atas kepalanya. Hal serupa juga telah dilakukan ke ibunya dan juga pendamping mereka Suta.

Tidak hanya kawat, pada saat itu UGB mengeluarkan belatung dari kepalanya, kepala ibunya dan juga anaknya Suta yang juga mengeluarkan belatung. Setelah itu UGB menjelaskan bahwa satu dari keempat orang ini telah menjadi korban santet. Maka dari itu UGB mengatakan akan memagari mereka  “Insya Allah, kami akan menjaga ibu dan bapak sekalian, yaitu akan kami “pagari”, namun dengan syarat mengqhatam-kan 30 juz Al-Quran sebelum bedug Subuh Sabtu terdengar,” kata Yarnelis menirukan UGB.

Dan itu tentu saja sangat berat, maka UGB menjelaskan bahwa hal itu dapat di wakilkan oleh para santri UGB  di Ponpes Assidiqie, Desa Cijeruk, Bogor. Dan UGB meminta uang senilai Rp. 25 juta sebagai biaya badal sekaligus memotong hewan kerbau Mina.

karena tidak ada uang tunai 25 juta, maka diserahkanlah 3 cincin dengan berat 7 gram serta emas yang ada dirumah seberat 25 gram tanpa adanya tanda terima. Setelah itu Yarnelis baru sadar bahwa ia telah tertipu dengan praktik yang ganjil ini, setelah dintimidasi bahwa telah terkena santet.