WartaSolo.com – Dikabarkan perusahaan alumunium asal Rusia yang juga terbesar di dunia, Russian Alumunium Company (Rusal) meminta waktu tiga bulan kepada pemerintah Indonesia guna menjajaki lebih dalam siapa mitra lokal yang nantinya akan digandeng dalam rangka pendirian pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina.

Dikutip Warta Solo dari laman ANTARA News, Rabu (26/2/2014), menyebutkan bahwa jangka waktu tiga bulan itu akan dipergunakan Rusal untuk mengkaji potensi sumber-sumber bauksit dari daftar calon mitra lokal. Demikian disampaikan oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat usai pertemuan dengan CEO Rusal, Oleg Deripaska, dan sejumlah delegasi Rusia di Jakarta, Selasa (25/2/2014)


Setelah penjajakan selesai, baru Rusal akan memastikan angka investasinya, dalam (pengolahan) alumina. Setelah mereka ‘secure’ dengan sumber-sumber bauksit di Indonesia.

Rusal sebenarnya bukan yang pertama kalinya datang dan menjajaki kerja sama dengan Indonesia. Sebelumnya, Rusal juga telah menjalin nota kesepahaman dengan salah satu perusahaan di Indonesia, tapi belum terdapat tindak lanjut spesifik dari kesepakatan itu. Bahkan, pihak Rusal juga mereka minta maaf, karena belum ada kelanjutan terkait adanya masalah global.

Menperin Hidayat juga menegaskan, Rusal juga sedang mengkaji mengenai regulasi untuk pembangunan smelter alumina, dan komoditi lain yakni nikel dan tembaga. Semua berharap, jika hilirisasi sumber bauksit ini berjalan lancar, pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk menghentikan impor alumina.

Selama pembicaraan dengan Rusal yang didampingi Wakil Ketua Kadin bidang IT dan Penyiaran, Didie Suwondo, delegasi Rusia juga mengapresiasi dengan impelementasi Undang-Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009. Implementasi UU itu dianggap sebagai sebuah perlindungan untuk penambahan nilai bahan baku bauksit.

Disi lain, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi mengatakan kunjungan Rusal dan sejumlah delegasi ke Kemenperin merupakan kunjungan kehormatan untuk penjajakan pabrik yang tidak hanya berkisar di pengolahan alumina saja.

Sementara itu, Oleg Deripaska yang ditemui setelah pertemuan dengan Hidayat, enggan memberikan penjelasan kepada pers dan langsung pergi meninggalkan Kantor Kemenperin.