Karanganyar, WartaSolo.com – Pengusaha lokal sulit memenuhi permintaan hasil kerajinan mebel ke luar negeri dikarenakan kekurangan tenanga kerja terampil, hal ini seperti disampaikan oleh Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komda Surakarta Yanti Rukmana. Kesulitan tenaga kerja terampik ini mulai dirasakan sejak tahun 2008, dimana saat ini ada krisis global melanda Amerika dan juga Eropa sehingga permintaan ekspor menurun drastis.

Karena lesunya permintaan maka para pekerja beralin ke bidang pekeraan lain seperti proyek bangunan dan juga tenanga administrasi yang mereka angap lebih menjanjikan.


Beberapa tahun sesudahnya, fenomena industri mebel kekurangan tenaga kerja masih terjadi sampai sekarang. Besaran upah tidak menjadi persoalan mengenai minimnya minat bekerja di industri itu.

“Salah satu penyebabnya karena harus memiliki keahlian di bidang mebel. Selain itu, bekerja di bidang mebel sifatnya adalah padat karya. Mereka harus rela kotor ketika bekerja,” tegas Yanti, seperti dikatakan kepada wartawan Jumat (21/02/2014)

Berdasarkan pengamatan Asmindo, penyerapan tenaga kerja hanya berkisar 10 persen dari total kebutuhan tiap industri tersebut di wilayah Surakarta dan sekitarnya. Saat ini, jumlah pengusaha mebel yang tergabung dalam Asmindo di Surakarta mencapai 84 orang atau menurun dari sebelumnya mencapai 274. Kegiatan organisasi ini juga nyaris vakum dikarenakan sebagian anggotanya bangkrut, terutama pengusaha dengan skala kecil dan menengah. Meski mampu melayani pesanan, namun waktu pengerjaan sering tidak tepat watku dikarenakan kekurangan pegawai.

“Pesanan yang bisa dikerjakan satu pekan molor hingga 12 pekan,” tambah Sholahudin Aly, Sekretariat Eksekutif Asmindo Komda Surakarta. Guna mendulang tenaga terampil, Askomindo membuka pusat pelatihan bagi calon tenaga kerja tingkatan SMA.