WartaSolo.com – Selain gunung Merapi yang meningkat statusnya menjadi waspada ternya hal yang sama terjadi pada gunung Slamet, Gunung yang masih masuk kawasan Jawa Tengah tersebut statusnya meningkat menjadi siaga pada Selasa (29/4/2014) kemarin.

Adanya intensitas dan frekuensi letusan gunung Slamet yang meningkat mengakibatkan harus dikosongkannya area radius 4 km dari puncak kawah. Warga ataupun pendatang dilarang melakukan pendakian, berkemah atau berwisata dalam darius 4 km.


Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam siaran persnya menyebutkan bahwa secara umum intensitas dan frekuensi letusan Gunung Slamet semakin meningkat. Sedangkan dari pos pengamatan tubuh Gunung Slamet terlihat penggelembungan, sementara itu di stasiun Cilik dan Buncis gunung Slamet menunjukkan inflasi.

Namun hingga saat ini BNPB memastikan belum perlu ada pengungsian, hal tersebut disebabkan permukiman yang ada masih berada pada zona aman. Seperti diketahui permukiman penduduk terdekat sekitar 10-12 km dari puncak Gunung Slamet yaitu Desa Jurang Manggu Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Pihak BNPB juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing dengan isu-isu yang menyesatkan.

Peningkatan aktivitas Gunung Slamet di Jawa Tengah menjadi siaga terhitung pagi tadi pukul 10.00 WIB. Dari data yang dihimpun pada hari Selasa (29/4/2014) kemarin, dari pukul 00.00 sampai 06.00 WIB terjadi 30 kali gempa letusan, 67 kali gempa hembusan asap, asap putih tebal kecoklatan-kelabu tebal setinggi 150-700 meter bahkan terlihat luncuran lava pijar mencapai 1.500 meter dari kawah.