Karanganyar, WartaSolo – Pupuk kompos yang dihasilkan oleh Tempat pembuangan Sampah Akhir (TPA) Sukosari yang berlokasi di Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar tampaknya kurang diminati oleh para petani. Rendahnya minat petani ini membuat pupuk tersebut tidak laku di pasar.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, pupuk kompos produksi TPA Sukosari ini kurang diminati petani, tetapi ternyata banyak dimanfaatkan oleh tukang kebun dari instansi pemerintahan untuk memumpuk tanaman hias yang berada di kantor masing-masing.


“Paling-paling hanya dimanfaatkan tukang kebun di kantor pemerintah untuk memupuk tanaman hias di halaman. Belum sampai menyuplai pupuk organik bagi petani,” kata Didik, seperti yang dilansir dari KR Jogja pada Rabu (16/04/2014.

Loyonya penjualan pupuk kompos Sukosari ini dibenarkan oleh Didik Joko Bakdono selaku Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Karanganyar. Tak hanya itu, menurut Didik ada banyak hal yang membuat penjualan pupuk kompos Sukosari ini loyo, salah satunya adalah masalah branding.

Didik mengatakan bahwa selama ini pupuk kompos Sukosari ini dijual tanpa menggunakan branding yang kuat, yakni tidak diberi label dan harga jualnya. Selain itu, sampai saat ini pupuk kompos Sukosari ini tidak didukung oleh tim pemasaran yang baik dan profesional.

Didik juga menambahkan bahwa penggunaan pupuk kompos Sukosari sendiri tidak sebagai pupuk utama karena hanya digunakan pada sebagian masa tanam dan petani saat ini masih mengandalkan pupuk buatan pabrik.

Masalah pupuk kompos ini telah sampai ke telinga Bupati Juliyatmono yang tertarik dengan proses pembuatan atau kompositing pupuk kompos Sukosari dan menghimbau agar petani meningkatkan kesadaran untuk menggunakan pupuk organik sebagai pupuk utama.