Solo, WartaSolo.com – 17 warga Solo dikabarkan menolak jatah penerimaan beras miskin atau raskin. Apa penyebab 17 warga ini menolak jatah raskin? Warga tersebut menolak jatah beras miskin bukan karena masalah kualitas, tetapi karena mereka merasa sudah tak layak lagi menerima raskin tersebut karena ekonominya telah mengalami peningkatan.

Keputusan 17 warga yang menolak jatah beras miskin ini patut diacungi jempol karena kuota raskin dapat dialihkan ke warga lain yang lebih berhak dan prgram raskin ini akan lebih tepat sasaran. Kesadaran warga untuk tidak menerima raskin karena sudah ‘naik kelas’ ini patut diapresiasi dan ditiru warga lainnya yang telah mengalami peningkatan ekonomi dan masih menerima raskin.


Berdasarkan informasi yang telah berhasil dihimpun, ada sekitar 37 warga yang terdaftar sebagai penerima jatah raskin premium yang dicoret dalam daftar dan 17 di antaranya telah mengalami pertumbuhan ekonomi. Sedangkan warga lainnya dicoret karena telah meninggal dunia dan ada yang pindah tempat tinggal.


Informasi ini dibenarkan oleh Kethis Rahmawati selaku Kepala Kantor ketahanan Pangan (KKP) yang mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi kesadaran 17 warga yang menolak jatah raskin premium karena telah mengalami pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan mendukung program raskin agar lebih tepat sasaran.

Kenthis juga mengatakan bahwa pembagian raskin ini banyak yang menilai kurang tepat sasaran, bahkan ada yang menuding berbau politis. Menanggapi hal ini, Kenthis mengatakan bahwa pihaknya akan membagikan raskin setelah pemilu untuk menghindari prasangka yang berkembang di masyarakat.

“Kemungkinan jatah raskin premium bagi 37 warga baik yang mengundurkan diri, meningghal dunia atau pndah alamat, akan dialihkan kepada warga lain. Hanya saja, pengalihan tersebut, tetap mengacu pada persyaratan yang berlaku.”

“Masih dicari jadwal yang tepat, sebab kebetulan juga hampir bersamaan dengan distribusi raskin dari pemerintah pusat,” kata Kenthis, seperti yang dilansir dari KR Jogja pada Minggu (06/04/2014).