Boyolali, WartaSolo.com – Akibat banjir lahar hujan yang terjadi di Kali Apu di lereng Gunung Merapi beberapa waktu lalu menyebabkan saluran irigasi tertimbun material. Akibat putusnya saluran irigasi ini, para petani di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali mengeluhkan kesulitan air.

Keberadaan saluran irigasi ini sangat penting karena saluran tersebut berfungsi menyalurkan air ke lahan pertanian milik warga di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. Saluran irigasi tersebut tertimbun material lahar dingin sepanjang 100 meter lebih dan menyebabkan sekitar 48 hektar lahan pertanian kekurangan air.


Sulitnya air akibat putusnya saluran irigasi menyebabkan para petani hanya mengandalkan air dari hujan saja. Tak hanya itu, para petani untuk sementara tidak menanami lahan mereka dengan tanaman padi, tetapi diganti sayuran agar dapat bertahan pada kondisi kurang air.

Selain mengandalkan air hujan, para petani ada yang memutuskan untuk mengambil air secara manual di Kali Apu untuk menyirami tanaman pertanian milik mereka. Hal ini tentu saja merepotkan dan cukup menguras tenaga karena untuk mengambil air, para petani harus naik turun tebing dan jaraknya juga cukup jauh.

Sampai saar ini para petani di Desa Tlogolele belum berani menggali tumpukan manterial yang menutupi saluran irigasi di Kali Apu karena masih khawatir terjadinya lahar hujan. Batu-batu besar yang terdapat di tumpukan material lahar dingin tersebut juga mempersulit petani untuk melakukan penggalian.

Hal ini dibenarkan oleh Budi Harsono yang merupakan petani setempat yang mengakui bahwa penggalian untuk membuka kembali saluran irigasi cukup sulit dan berisiko.

“Air hujan saat ini menjadi andalan kami,karena tidak ada sumber air langsung selain dari Kali Apu. Sudah tiga minggu lebih saluran air tertimbun pasir dan batu, tapi sampai saat ini kami belum melakukan penggalian. Bantuan juga belum ada,” kata Budi Harsono, seperti yang dilansir dari Timlo pada Senin (31/03/2014).