Klaten, WartaSolo.com – Hembusan asap Gunung Merapi yang terjadi pada kamis (27/03/2014) pada pukul 13.00 menyebabkan sejumlah wilayah diguyur hujan abu dan kerikil. Hal ini membuat panik warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi di Kecamatan Kemalang, Klaten dan memutuskan untuk mengungsi ke tempat yang aman.

Ribuan warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi ini merasa panik setelah gunung api teraktif di dunia ini mengeluarkan hembusan yang disertai dengan getaran dan suara gemuruh. Tak lama setelah itu, hujan abu dan kerikil pun mengguyur sejumlah wilayah di Klaten dan Yogyakarta.


Warga kemudian memutuskan untuk mengungsi ke tempat yang aman karena khawatir terjadi letusan seperti yang terjadi pada tahun 2010 lalu. Sesaat setelah hembusan terjadi, ribuan warga memutuskan untuk mengungsi dan meninggalkan kampung halaman.

Hal ini dibenarkan oleh Yanti (60) yang merupakan salah seorang pengungsi dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Yanti mengatakan bahwa sekitar pukul 13.15 terjadi getaran dan suara gemuruh yang kemudian disusul terjadinya hujan kerikil dan abu.

“Getarannya sangat terasa. Suara gemuruh sangat keras sehingga membuat kami panik. Belum sempat berkemas tiba-tiba ada suara keras mengenai atap rumah yang ternyata kerikil jatuh dari langit. Saya berfikir jika Gunung Merapi meletus,” kata Yanti, seperti yang dilansir dari KR Jogja pada Kamis (27/03/2014).

Sekitar pukul 15.00, sebagian warga yang mengungsi ada yang nekat kembali ke rumah meski hujan abu masih terjadi. Gunung Merapi sendiri saat ini statusnya dinyatakan aktif normal dan tidak terjadi letusan yang berarti.

“Saat ini pengungsi sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. Kami juga mengimbau kepada warga untuk tetap tenang,” kata Sri Winoto selaku Kepala BPBD Klaten.