Boyolali, WartaSolo.com – Minimnya petunjuk dan referensi mengenai sejarah obyek wisata Candi Lawang membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Boyolali mengalami kesulitan untuk melakukan rekonstruksi. Seperti yang kita ketahui keadaan Candi Lawang saat ini tidak lagi utuh dan perlu setuhan rekonstruksi.

Selain minimnya referensi sejarah seperti prasasti, keterbatasan infrastruktur juga menjadi hambatan tersendiri bagi pemkab untuk mempromosikan Candi Lawang sebagai obeyk wisata ke masyarakat. Dua kendala ini memang sampai saat ini belum teratasi.


Hal ini dibenarkan oleh Bambang Purwantoro selaku Kasi sejarah, nilai budaya dan kepubakalaan Dispubpar Kabupaten Boyolali pada Minggu (23/03/2014).Bambang mengatakan bahwa pihaknya telah sering mendapatkan masukan dari masyarakat untuk melakukan pemugaran Candi Lawang ke bentuk utuh seperti aslinya.

Pemugaran Candi Lawang ini terhalang oleh minimnya sumber referensi sejarah yang biasanya berupa prasasti tentang Candi Lawang. Menindak lanjuti masukan dari masyarakat, Bambang mengatakan bahwa pihaknya telah meneruskan hal ini ke Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah.

“Tiap tahun kita usulkan agar Candi Lawang segera ditata. Tapi sampai sekarang belum gol. Bukanya tak peduli untuk nguri-uri budaya, tapi untuk rehab candi memang bukan kewenangan kita,” kata Bambang.

Tak hanya itu, Bambang juga menambahkan bahwa Candi Lawang yang berlokasi di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo memiliki nilai strategis, baik dari sisi budaya, potensi wisata, dan juga pendidikan. Pihakya sebenarnya memiliki ide untuk mengintegrasikan obyek wisata di kaki Merapi dengan situs-situs lainnya, sebut saja Candi Sari, Cabean kunti, dan banyak lagi. Sayangnya, infrastruktur yang belum tertata masih menjadi kendala.

Sementara itu, pihak BP3 Jawa Tengah melalui Hutomo selaku Kasi pelestarian dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya mengatakan bahwa pihaknya mengalami kesulitan untuk melakukan pemugaran Candi Lawang karena tak idketahui informasi mengenai sejarah, fungsi, dan kapan dibangun candi tersebut.

“Kita sedang melakukan proses anastilosis, yakni mencoba memadukan elemen situs untuk mencari bentuk asli. Kalau itu belum ketemu, dipastikan akan susah,” kata Hutomo, seperti yang dilansir dari KR Jogja pada Senin (24/03/2014).