WartaSolo.com – Serangan terhadap sebuah kantor polisi di kota Jalalabad, Afghanistan timur, Kamis (20/3/2014) dikabarkan telah menewaskan 18 orang. Menurut beberapa pejabat setempat, serangan itu adalah aksi serangan bunuh diri oleh Taliban, dimana 10 korbannya adalah polisi, satu warga sipil dan tujuh penyerang.

Deputi Menteri Dalam Negeri, Mohammad Ayoub Salangi, kepada AFP menyebutkan bahwa sepuluh polisi, termasuk kepala kepolisian daerah, tewas dan 14 lain cedera. Sementara itu satu warga sipil tewas, juga seluruh ketujuh penyerang.


Disisi lain, sebagaimana dikutip Wata Solo dari laman ANTARA News, Jumat (21/3/2014) juru bicara kementerian dalam negeri, Sediq Sediqqi, mengungkapkan bahwa satu atau dua penyerang bersembunyi di sebuah ruangan kecil di dalam kantor polisi itu sebelum mereka dibunuh oleh pasukan keamanan.

Serangan itu sendiri mulai berlangsung ketika sebuah truk kecil yang berisi bom diledakkan di pintu gerbang kantor polisi tersebut, yang mengakibatkan puing-puing berserakan di jalan sekitarnya, dan pasukan keamanan menutup lokasi kejadian. Sekitar 20 orang yang cedera dirawat di rumah sakit utama di kota itu.

Sebagai tambahan informasi, Taliban memerintah Afghanistan sejak 1996 dan telah mengobarkan pemberontakan setelah digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara dikirim ke Afghanistan untuk membantu pemerintah Kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.

Selain itu, gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014, namun Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afghanistan.

Sementara itu, pada Oktober 2011, pihak Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afghanistan.