WartaSolo.com – PT PGN Tbk dikabarkan berencana akan menaikkan harga gas untuk konsumen di Batam, Kepulauan Riau, menyusul kenaikan harga beli dari produsen gas.

Sebagaimana dikutip Warta Solo dari laman ANTARA News, Jumat (14/3/2014), Direktur Pengembangan Bisnis PGN, Jobi Triananda mengungkapkan bahwa pihaknya akan segera mengusulkan kenaikan harga gas tersebut ke Menteri ESDM.



Menurut Jobi, adanya kenaikan harga di hulu, akan menyebabkan pada kenaikan harga di hilir. Meski demikian, ia belum bisa memperkirakan berapa dan kapan kenaikan harga gas untuk pelanggannya di Batam itu.

Jobi melanjutkan, pihaknya masih menunggu persetujuan Menteri ESDM atas kenaikan harga hulu dari produsen gas. Pelanggan PGN di Batam terdiri dari industri, pembangkit, dan rumah tangga.

Sementara itu, menurut Kepala Divisi BBM dan Gas PLN, Suryadi Mardjoeki, kenaikan harga gas PGN akan meningkatkan subsidi listrik. PLN tidak keberatan harga gas mengalami kenaikan, namun hal itu hendaknya diikuti kepastian pasokan gas.

“Harus pula ada pinalti bagi produsen yang gagal pasok, karena kami juga kena denda jika tidak menyerap sesuai kesepakatan,” ungkap Suryadi.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah melaksanakan penandatanganan enam kontrak penjualan gas bumi ke pembeli domestik pada Kamis (13/3/2014) lalu.

Sebagai informasi, total volume gas adalah 915,22 triliun British thermal unit (TBTU) dengan tambahan penerimaan negara hingga akhir kontrak senilai 2,28 miliar dolar atau Rp 25 triliun.

Dari enam kontrak itu, dua di antaranya dilakukan PGN dengan ConocoPhillips Grissik Ltd yakni amendemen ketiga perjanjian jual beli gas (PJBG) untuk Batam I dengan volume 225 TBTU atau 50 miliar British thermal unit per hari (BBTUD) dan amendemen PJBG Batam II dengan volume 65,8 TBTU atau 12 BBTUD.

Sebanyak empat kontrak lainnya adalah amendemen kedua PJBG PT Chevron Pacific Indonesia dan PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang-Talisman (Jambi Merang)-Pacific Oil and Gas (Jambi Merang) Ltd 58,57 TBTU atau 16 BBTUD dan amendemen PJBG PLN dan Total E&P Indonesie-Inpex Corporation 6,55 TBTU atau 2,33 BBTUD.