WartaSolo.com – Produsen minyak kelapa atau pembuat minyak kampung di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terancam punah karena todak adanya generasi penerus.

Dikutip oleh WartaSolo dari laman ANTARA News, rabu (12/3/204), Sartini (50), produsen minyak kelapa “Kelapa Mas” menyebutkan bahwa ketiadaan generasi penerus menjadi tantangan terbesar kelangsungan usaha minyak kelapa, khususnya di wilayah Kecamatan Srandakan, Bantul, DIY.



Menurutnya, di Kecamatan Srandakan pada tahun 2000-an, terdapat sekitar 25 orang yang bergelut pada bidang usaha ini. Namun, perlahan satu per satu mereka pun berguguran.

Sartini adalah penerus generasi ketiga usaha minyak kelapa ini, dimana mulai ia tekuni usaha turun temurun ini sejak tahun 1984. Sartini mengaku tak yakin usaha minyak kelapa ini dapat berlanjut di generasi berikutnya, apalagi keempat putrinya sama sekali tak berminat melanjutkan usaha turun temurun yang pabriknya terletak di Dusun Mangiran ini.

Saat ini di pabrik pembuatan minyak kelapa miliknya, Sunarti mempekerjakan sebanyak 11 orang karyawan. Enam di antaranya laki-laki, dan sisanya perempuan.

Para karyawan tersebut adalah tetanga sekitar rumah Sartini dan kerabat Sartini. Mereka mendapatkan upah Rp 25 ribu – 35 ribu per harinya untuk delapan jam kerja, lai pukul 8 pagi hingga 16.00 WIB.

Dalam sehari pabriknya mampu mengolah sekitar 1000 buah kelapa, dan menghasilkan sekitar 100 liter minyak kelapa. Sartini biasanya mendapatkan keperluan bahan baku dari wilayah Purworejo, sekitar Bantul dan Sulawesi (tergantung harga).

Kemudian, untuk mendapatkan tambahan modal, ia pun memutuskan bergabung menjadi anggota Credit Union Tyas Manunggal (CUTM) sejak enam bulan lalu.

“Saya pinjam Rp 25 juta pada koperasi untuk membeli bahan baku (kelapa). Sekarang masuk bulan keempat,” katanya.

Sementara itu, menanggapi soal kesulitan regenerasi, pihak koperasi belum dapat bertindak apa pun karena prioritas mereka baru sebatas penataan dan pendampingan usaha.

“Saat ini belum ada prioritas soal regenerasi. Konsumennya (minyak kelapa) juga terbatas. Koperasi itu sebenarnya menyeimbangkan usaha dengan daya serap,” ujar Ketua CUTM, Hery Astono.