WartaSolo.com – Beberapa minggu terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terlihat menguat. Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut masih dalam batas yang telah diperkirakan sebelumnya.

“Secara umum, kami melihat pasar efisien dan misalnya ada penguatan (rupiah), itu masih dalam volatilitas yang bisa diterima,” katanya Agus di Jakarta, seperti dikutip Warta Solo dari laman ANTARA News, Kamis (13/3/204).



Agus juga menyebutkan bahwa penguatan rupiah itu terjadi karena aliran modal (inflow) mulai kembali masuk setelah sebelumnya dana asing tersebut keluar akibat kabar “tapering off”, serta dipicu membaiknya fundamental perekonomian nasional.

“Faktor dari incoming flow untuk membeli surat berharga negara maupun saham di Indonesia, sampai minggu pertama Maret telah mencapai Rp 38 triliun, bandingkan sepanjang 2013 incoming (hanya) Rp 28 triliun,” ujarnya.

Agus pun menyakini bahwa pada kondisi saat ini, nilai tukar rupiah Indonesia masih sejalan dan selaras dengan nilai tukar mata uang lain di regional, meskipun berbulan-bulan sempat mengalami pelemahan dan volatilitas yang mengkhawatirkan pelaku pasar.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore (12/3/2013) melemah sebesar 20 poin menjadi Rp 11.420 dibandingkan dengan sebelumnya Rp 11.400 per dolar AS.

Sedangkan, kurs tengah Bank Indonesia mencatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp11.432 dibandingkan dengan sebelumnya (11/3/2013) di posisi Rp11.384 per dolar AS.

Sementara itu, menurut Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto, koreksi mata uang rupiah cenderung tertahan oleh fundamental ekonomi Indonesia yang cenderung membaik.

Bahkan Rully memperkirakan pada pekan ini nilai rupiah terhadap dolar AS akan bergerak pada kisaran Rp 11.350 – Rp 11.700 per dolar AS.