Klaten, WartaSolo.com – Aktivitas penambangan pasir liar yang terjadi di wilayah Kabupaten Klaten begitu memprihatinkan dan mengancam keberadaan sumber mata air di wilayah tersebut. Beberapa pihak bahkan mengingatkan bahwa sumber mata air di Klaten akan punah jika aktivitas penambangan liar tidak dihentikan.

Menanggapi masalah ini, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Klaten menyatakan tidak akan memroses pengajuan izin usaha penambangan yang taksesuai dengan zonasi. Beberapa penambang liar banyak yang menambang pasir di wilayah yang masuk KRB (Kawasan Rawan Bencana) yang seharusnya tak boleh ditambang.


Selain itu, penambang pasir liar atau galian C ini juga banyak yang tidak melakukan reklamasi lahan, sehingga aktivitas setebut meninggalkan kerusakan lahan yang cukup luas. Berdasarkan informasi dari Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan BLH Klaten, Bambang Subiyantoro mengatakan bahwa kerusakan lahan akibat penambangan pasir liar ini telah mencapai 40 hektar.

Penambang pasir seharusnya melakukan reklamasi lahan bekas galian atau penambangan. Proses tersebut dimulai dengan menyingkirkan lapisan tanah subur dan kemudian melakukan penambangan pasir secara terasering. Setelah penambangan berakhir, penambang harus mengembalikan lapisan tanah subur dan menanaminya dengan tumbuhan hijau agar lingkungan tak rusak.

“Ada penambang yang melakukan reklamasi tetapi tidak selesai, tetapi ada yang membiarkan bekas penambangan rusak tanpa ada reklamasi sama sekali. Semestinya dengan prosedur demikian. Yang terjadi sekarang dikepras begitu saja, sewaktu-waktu bisa jugrug, tanah subur juga dihilangan,” kata Bambang Subiyantoro, seperti yang dikutip dari KR Jogja pada Minggu (09/03/2014).

Aktivitas penambangan pasir ini juga merusak jalur evakuasi yang terdapat di wilayah Kemalang, Klaten. Hal ini akan sangat mengganggu proses evakuasi apabila terjadi bencana.