WartaSolo.com – Pengembangan pasar obligasi berbasis investor domestik sangat didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagai instrumen pembiayaan jangka panjang yang dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Rahmat Waluyanto di Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung menyatakan bahwa saat ini sedang melakukan program bersama dengan Bank Indonesia, pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan dan Self Regulation Organization (SRO) untuk mengembangkan pasar surat utang atau obligasi.



Sebagaimana dikutip WartaSolo dari laman ANTARA News, Minggu (9/3/2014), Rahmat juga menyebutkan bahwa obligasi terdiri beberapa jenis yaitu surat utang negara, obligasi korporasi, dan obligasi daerah

Selain merupakan instrumen jangka panjang yang diperlukan untuk pembiayaan infrastruktur, menurut Rahmat, obligasi juga diperlukan untuk membantu pengembangan industri keuangan nonbank khususnya asuransi dan dana pensiun.

“Industri asuransi dan dana pensiun itu kan liabilities atau kewajibannya bersifat jangka panjang,” katanya.

Rahmat pun juga menyebutkan bahwa selama ini penyediaan instrumen jangka panjang untuk industri asuransi dan dan pensiun masih kurang karena pasar obligasi korporasi yang belum berkembang.

“Jadi dengan adanya pengembangan pasar surat berharga tentu akan membantu industri asuransi dan dana pensiun untuk mengelola aset liabilitasnya, agar tidak mismacth aset liabilities manajemennya,” katanya.

Menurut menurut Rahmat, di pasar saham, sudah banyak dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sehingga dapat berkembang lebih cepat.

Mengenai alasan pengembangan pasar obligasi didahulukan, Rahmat mengatakan, pengembangan pasar obligasi akan membantu industri asuransi dan dana pensiun. Selain itu emitennya juga bukan hanya perusahaan tetapi juga negara atau pemerintah termasuk pemerintah daerah. “Kalau emisi saham hanya perusahaan saja,” katanya.