Boyolali, WartaSolo.com – Anggota dewan yang duduk di DPRD Boyolali telah menyiapkan dana yang dibutuhkan untuk mendatangkan burung hantu untuk memberantas tikus di areal pertanian. Seperti yang kita ketahui, tikus adalah salah satu hama pertanian yang cukup merepotkan dan menimbulkan kerugian jika tidak dikendalikan.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, pihal DPRD Boyolali segera melakukan studi banding ke Jepara dan Kudus. Kedua daerah ini dinilai telah berhasil memberdayakan burung hantu untuk memberantas hama. pemberantasan hama dengan memanfaatkan predator alami ini dinilai hemat dan tidak merusak ekosistem.


Rencana ini telah dikonfirmasi oleh Ketua DPRD Boyolali, S. Paryanto yang mengungkapkan bahwa pihaknya memilih Jepara dan Kudus sebagai lokasi studi banding untuk mengetahui bagaimana cara memanfaatkan burung hantu tersebut sebagai pemburu hama.

“Untuk berapa jumlah burung hantunya, jelas kita butuh banyak sesuai alokasi kebutuhan. Ini sedang kita persiapkan. Di Boyolali itu predator selalu diburu untuk tujuan komersil, termasuk jenis predator hama. Makanya itu mungkin nanti kita buatkan perdanya agar predator hama dilarang diburu,” kata S. Paryanto.

S. Paryanto juga menambahkan bahwa pihaknya berpendapat bahwa mungkin akan membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk melarang perburuan predator alami, termasuk burung hantu oleh masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar keseombangan tetap terjaga dan hama seperti tikus dapat dikendalikan populasinya.

Sebelumnya Kabupaten Boyolali sebenarnya pernah menggunakan burung hantu ini untuk membantu memberantas hama di lahan pertanian. Sayangnya, usaha ini gagal lantaran burung hantu tersebut menjadi sasaran perburuan oleh masyarakat. Para pemburu predator tersebut melakukan perburuan untuk tujuan komersil.

Seperti yang dilansir dari KR Jogja pada Selasa (04/03/2014), S. Paryanto juga menghimbau pada masyarakat agar nanti setelah pengadaan burung hantu telah berjalan agar turut serta bertanggung jawab menjaga burung hantu dari perburuan.