WartaSolo.com – PDIP beri kritikan pedas kepada JK yang ngotot ingin menaikan harga BBM, seperti disampaikan oleh Effendi Sombolon selaku Ketua DPP PDIP. Effendi menyatakan bahwa kenaikan harga BBM itu hanyalah rencana Wapres Jusuf Kalla. Seperti yang telah diberitakan bahwa pemerintah berencana menaikkan harga BBM sebelum akhir tahun 2014. Namun, rencana tersebut mendapat kritikan pedas dari PDIP yang merupakan pendukung setia pasangan Jokowi-JK.

Effendi sangat menolak rencana JK yang hendak menaikkan harga BBM bersubsidi jenis premium, ia menganggap JK terlalu ngotot ingin menaikkan harga hingga Rp 3.000. Dari harga Rp 6.500 akan naik menjadi Rp 9.500. Menurut Effendi sikap Presiden Joko Widodo sangat berbeda terhadap rencana tersebut, Jokowi terkesan lebih kalem dibandingkan hasrat JK yang sangat getol ingin menaikkan harga BBM.



”Mengapa sih kok nafsu sekali ingin menaikkan harga BBM – Kok bersemangat banget naikkan harga komoditas? Apa nggak lihat sikon (situasi dan kondisi), kan dilantik saja baru seminggu, ngapain (JK) bikin heboh. Saya gak paham ada apa di balik ini, saya hanya mempertanyakan mengapa JK kok bernafsu sekali,” kata Effendi di gedung DPR, Jakarta, sebagaimana lansiran JPNN, Rabu (5/11/2014).

Effendi menyatakan bahwa devisit anggaran yang terjadi adalah akibat lengahnya pengelolaan energi negara yakni karena APBN sebagian besar telah dialihkan untuk subsidi BBM, sehingga menyebabkan tidak lancaranya penataan tata niaga.

”Sebaiknya diperbaiki tata kelola energinya dulu, baru kemudian tata niaga dan distribusinya. Jangan dibalik menangani program jaring pengaman sosialnya. Kalau begitu pemerintahan Jokowi ini sebaiknya gak usah ada saja, mending dilanjutkan saja pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) lagi,” tandas Effendi.

Effendi sangat setuju terhadap usulan ekonom Rizal Ramli yang memberi masukan supaya pemerintah tak usah naikkan harga BBM tersebut, namun bisa hanya dengan mengatur kadar oktan pada tiap jenis BBMnya saja.

” Rizal Ramli itu betul sekali, yang disesuaikan oktannya saja. Oktan yang berharga murah diberikan untuk yang murah, contohnya angkot, bajaj dan motor ,” papar Effendi yang merupakan Wakil Ketua DPR versi Koalisi Indonesia Hebat tersebut.

Effendi sangat khawatir jika kenaikan harga BBM ini ditunggangi kepentingan kelompok neoliberal yang tengah menyusup dalam Kabinet Kerja Jokowi. Effendi mengakui bahwa memang ada beberapa menteri yang menempati sektor ekonomi yang beraliran neo liberal, yang sudah pasti sangat bertentangan dengan doktrin Trisakti dari Bung Karno.

”Saya mau tanya sekarang, siapa itu Sudirman Said (Menteri ESDM)? Siapa juga Rini Soemarno (Menteri BUMN)? Dan siapa pula Sofyan Djalil (Menko Ekonomi)? Jadi lumrah saja jika harga BBM itu bilangnya akan naik, sebab penentu keputusannya bukan berasal dari ideologi Trisakti. Saya juga tidak tahu mereka itu siapa,” tegas Effendi sengit.

Effendi menekankan bahwa para menteri itu diduga kuat berada pada alur liberal ekonomi. Sedangkan arah politik ekonomi PDIP sendiri sejatinya adalah Trisakti. Maka sudah semestinya komoditas yang menyangkut kepentingan hidup rakyat yang salah satunya BBM itu dikuasai oleh negara. ”Bukan malahan dilempar ke mekanisme pasar,” pungkas Effendi yang juga anggota dari Komisi VI DPR tersebut.