WartaSolo.com – Video kekerasan yang dilakukan anak yang masih menggunakan seragam Sd beredar di youtube. Video tersebut menunjukkan kebrutalan seoarng laki – laki dan juga perempuan yang secara bertubi – tubi memukuli temannya sendiri yang trelihat seorang wanita yang mengenakan jilbab. Gadis tersebut terlihat menangis saat harus meneriman pukulan demi pukulan. Ia terlihat tidak melawan dan hanya berusaha untuk menangkis setiap pukulan yang diarahkan padanya. Sungguh terlihat sangat ironis hal ini dilakukan oleh anak yang masih menginjak bangku SD.

Adegan tersebut terlihat tidak sangat pantas dilakukan. Berkali-kali anak perempuan itu dihajar dengan kepalan tangan, ditampar, dan ditendang. Bahkan ada seorang siswa yang melancarkan tendangan sembari melompat, sehingga efeknya semakin keras. Di sela-sela penyiksaan, beberapa siswa tampil di muka kamera sembari tertawa-tawa. Ada juga lontaran kalimat bahasa Minang yang meminta aksi itu dihentikan.


Dengan beredarnya video tersebut ke dunia maya, tidak dapat dipungkuri sudah banyak yang melihatnya. Mengenai aksi video tersebut pihak pemerintah Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat akan memanggil Yayasan Perwari terkait dengan kasus kekerasan terhadap salah seorang murid SD dalam rekaman video yang ditayangkan di Youtube.

“Sangat sedih dan menyesalkan terjadinya aksi kekerasan terhadap murid SD Trisula Perwari dalam ruang kelas yang diunggah di Youtube,” kata Wali Kota Bukit Tinggi Ismet Amziz saat seperti dikutip dari Antara, Rabu (15/10).

Kejadian tersebut tentu saja sangat disayangkan semua pihak. Pihak orang tua korban pun mengaku tidak mengetahui apa yang telah dialami putri kecilnya tersebut sebelum pihak kepala sekolah memanggil mereka. karena sang anak (korban) tidak pernah mengatakan bahwa dirinya dipukuli oleh teman – temannya.

Melihat dari kejadian ini, tentu saja membuat banyak orang tua yang khawatir akan pendidikan anak – anaknya. Karena selain hanya pelajaran, moral dan budi pekerti perlu kita tanamkan sejak dini. Sehingga moral anak – anak akan terjaga dan terbentuk dengan baik sejak dini. Aksi kekerasan tidak dapat ditolerir, apalagi melibatkan seorang anak.