WartaSolo.com – Beredar surat perintah penyidikan KPK atas nama Setya Novanto, yang saat ini terpilih sebagai Ketua DPR RI. Surat perintah penyidikan (sprindik) yang dipastikan palsu tersebut saat ini telah beredar dikalangan awak media.

Menurut pernyataan Bambang Widjojanto selaku Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahwa dalam menanggapi beredarnya surat perintah penyidikan (sprindik) palsu tersebut pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan.


‎ “Kalau dari sisi internal KPK sendiri harus sangat prudent dan tetap meningkatkan kompetensi, kewaspadaan serta akuntabilitasnya,” tutur Bambang sebagaimana lansiran situs JPNN, Selasa (7/10/2014).

Sedangkan dari sisi eksternal, lanjut Bambang, KPK akan meminta agar masyarakat ikut pula mewaspadai dan selalu peka terhadap segala upaya yang akan dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai tujuan untuk merusak kredibilitas KPK.

“Kemungkinan memang ada dari sebuah kelompok yang sengaja membuat fitnah agar kredibilitas KPK menjadi rusak dengan cara menyebarkan sprindik palsu itu,” ungkap Bambang.

Sebelumnya dikabarkan bahwa telah beredar foto sprindik Setya yang dikirim dari sebuah surat elektronik dengan alamat: bambang.sukoco23@gmail.com. Dalam sprindik tersebut menyatakan bahwa KPK telah melakukan penyidikan tindak pidana korupsi dengan tersangka Setya Novanto selaku anggota DPR. Tindakan korupsi itu dituliskan berupa penerimaan hadiah atau janji kepada pegawai negeri ataupun penyelenggara negara berkaitan dengan adanya proses perencanaan dan pelaksanaan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Riau.

Dalam foto sprindik tertanggal 25 September 2014 yang ditandatangani oleh Bambang Widjojanto selaku Wakil Ketua KPK itu Setya Novanto disangka telah melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pada foto sprindik itu juga dicantumkan nama keempat penyidik KPK yang tengah menangani kasus tersebut. Keempat penyidik KPK itu yakni Endang Tarsa, Bambang Sukoco, Heri Muryanto serta Salmah.