WartaSolo.com – Melimpahnya pasokan global dalam sepekan terakhir diikuti dengan kemerosotan harga. Ditambah dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang ditopang cerahnya data ekonomi AS.

Menurut lansiran laman Wall Street Journal, Sabtu (4/10/2014), harga minyak jenis brent yang jadi patokan harga global, mengalami penurunan 20 persen dari level tertinggi pada pertengahan Juni.


Pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), harga minyak jenis Brent turun US$ 1,11 atau 1,2 persen menjadi US$ 92,31 per barel di ICE Futures Europe. Ini merupakan penutupan terendah sejak 28 Juni 2012.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun US$ 1,27 atau 1,4 persen menjadi US$ 89,74 per barel di New York Mercantile Exchange. Demikian dilansir laman Liputan6, Sabtu (4/10/2014).

Melimpahnya stok minyak global yang jauh melampaui permintaan dunia dalam beberapa bulan terakhir, memicu spekulasi di kalangan investor tentang apakah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan mengurangi produksi untuk menjaga harga tinggi.

Belum lama ini, Arab Saudi mengumumkan pemotongan harga minyak, yang ditafsirkan pasar sebagai tanda bahwa Negara ini memiliki kecondongan untuk tidak memangkas produksi.

Disamping itu posisi dolar menguat terhadap mata uang utama lainnya setelah data pekerjaan AS September melebihi harapan. Hal ini menjadikan harga minyak menjadi lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang asing.