WartaSolo.com – Belakangan Indonesia sedang ramai membicarakan harga BBM yang naik, banyak masyarakat yang resah dan takut harga-harga akan naik. Pada dunia usaha menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia tidak akan ada gejolak yang besar, namun jika pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi maka dampaknya hanya akan terjadi pada biaya produksi.

Kenaikan biaya produksi tersebut tergantung seberapa besar kenaikan harga BBM. “Dampak pasti ada. Tapi pasti enggak semua. Subsidi premium 5 ribu, solar 6 ribu. Jadi berapa pemerintah akan naikkan,” kata Sofjan Wanandi di Jakarta, Kamis (28/8/2014).



Sofjan Wanandi memperkirakan akan ada kenaikan biaya produksi sebesar 3 persen hingga 5 persen. Dirinya menilai bahwa kenaikan tersebut sangat wajar, jika tidak ingin negara mengalami defisit secara terus menerus. “Tapi enggak ada jalan lain. Kalau subsidi gagal untuk yang produktif akan sulit.” ungkapnya.

Sofjan juga menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak akan tinggal diam dalam menghadapi gejolak terutama mengurangi defisit, akibat gonjang ganjing rupiah. “Walaupun menderita tapi akan lebih baik akan ada keuntungan daripada anggaran subsidi digunakan untuk mobil penyelundupan pertambangan,” katanya.

Menurut Sofjan Wanandi, Pengusaha dalam hal ini mendukung rencana kenaikan BBM karena sudah 5 tahun enggak naik. “Makanya kita dukung kenaikan. Memang setahun pertama harus menderita.”

Seperti diketahui bahwa sekarang ini kelangkaan BBM telah terjadi di berbagai daerah, hal tersebut justru membuat rugi pengusaha. Kenapa? tentu karena semua karyawan harus antre berjam-jam yang mengakibatkan telat masuk kerja. “Yang penting barang ada, naik harga enggak apa-apa yang penting ada,” pungkas Sofjan Wanandi.