WartaSolo.com – Beberapa hari terakhir beberapa daerah di tanah air mengalami kelangkaan BBM yang terjadi akibat dibatasinya BBM bersubsidi oleh pemerintah. Hal tersebut membuat masyarakat menjadi panik dan khawatir akan menghadapi kelangkaan BBM yang berkepanjangan.

Namun Eksternal Relation Pertamina Region Jawa Tengah dan DIY, Robert MV Dumatubun, menghimbau pada masyarakat untuk tidak panik, karena kepanikan masyarakat justru akan mempercepat habisnya stock BBM. “Panic buying justru stok akan cepat habis, jadi lebih baik pembelian dilakukan secara wajar.” ujar Robert



Menurut Robert, melalui pengendalian penjualan BBM subsidi maka masyarakat dari kalangan mampu akan beralih ke BBM nonsubsidi. “Seharusnya BBM nonsubsidi ini ditujukan bagi masyarakat kurang mampu, sedangkan yang mampu bisa membeli BBM subsidi di antaranya Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex, dan solar nonsubsidi,” ujarnya.

Sedangkan mengenai pengawasan di lapangan, Robert mengatakan, dalam hal ini Pertamina hanya berdiri sebagai operator, sedangkan mekanisme pengawasan dari pemerintah. “Ada wacana yang segera diusulkan yaitu pembatasan pembelian, artinya jumlah pembelian dibatasi misalnya kendaraan pribadi maksimal membeli Rp100.000, ini bisa menjadi opsi alternatif,” jelasnya.

Dari total kuota solar berubsidi tahun ini yang mencapai 2,1 juta KL, realisasi konsumsi hingga Juli mencapai 1,1 juta KL dan realisasi konsumsi untuk premium subsidi sebesar 2,1 juta KL dari kuota 3,5 juta KL.

“Dilihat dari data tersebut konsumsi BBM subsidi sudah mencapai 65 persen, jika penjualan tidak dikendalikan maka kuota bisa habis sebelum akhir tahun,” pungkasnya.