WartaSolo.com – Berita mengejutkan datang dari Ignatius Ryan Tumiwa, pria kurus berumur 48 tahun lulusan S2 Universitas Indonesia yang datang ke Mahkamah Konstitusi untuk mengajukan permohonan uji materi agar merevisi Pasal 344 KUHP tentang eutanasia atau upaya untuk mengakhiri hidup seseorang dengan tenang, karena saat ini Ryan ingin dirinya agar disuntik mati.

Sebenarnya keinginan untuk suntik mati sama sekali tidak terbesit dalam benaknya. Awal mulanya dirinya datang ke Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) untuk mempertanyakan Pasal 34 UUD 1945 tentang fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara karena Ryan merasa dirinya fakir miskin. Tetapi, jawaban mereka fakir miskin itu tunawisma (gelandangan), bukan seperti dirinya


Lantas, karena frustrasi dari Komnas HAM, kemudian terlintas ide untuk suntik mati. “Karena tak ditanggapi, muncul ide untuk ke Departemen Kesehatan minta disuntik mati, tetapi kembali dilarang karena di Indonesia tak ada hukum yang mengatur. Kemudian mereka menyuruh saya ke MK untuk melakukan revisi agar rencana saya bisa berjalan,” ungkap pria yang mengaku pernah bekerja di perusahaan audit itu.

Seperti WartaSolo kutip dari Tribunnews, rabu (6/8/2014) Ignatius Ryan Tumiwa menjadi depresi setelah ayahnya yang bernama Thu Indra (88) pada 2012, selain itu keluarganya juga sudah pada membina rumah tangga sendiri sehingga jarang datang, ditambah dirinya diberhentikan dari tempatnya bekerja

menurut tetangga sebelum ayahnya meninggal kondisi rumah tersebut masih cukup terawat. “Sebelum ayahnya sakit dan kemudian meninggal rumahnya belum sekotor itu. Kayaknya dia jadi males kemudian stres gara-gara ayahnya meninggal,” ungkap Erni, ibu yang rumahnya berada persis di depan rumah Ryan.

Dimata tetangga Ryan dikenal sebagai sosok yang cukup pintar, terlihat hasil ijazah S2nya mempunyai IPK 3,37