WartaSolo.com – Jalur Pantura menjadi daerah yang terkenal macet jika sudah musim mudik menjelang lebaran. Dan hal ini diperparah dengan amblesnya jembatan Comal pada jumat dini hari (18/7). Jembatan tersebut ambles karena diterjang banjir bandang, dan makin lama maikin tergerus air hingga kini kedalaman ambles sampai satu meter. Maka dari itu kendaraan sudah tidak dapat menggunakan jembatan utama jalur pantura tersebut. Dan dikhawatirkan akan mengganggu arus mudik lebaran tahun ini.

rusaknya jembatan itu akibat banjir bulan Februari lalu. Sebenarnya, kata dia, sesaat setelah banjir langsung kami perbaiki. Waktu itu, jembatan sempat ambles sedalam 20 cm. “Ternyata sekarang ambles lagi,” ujar Djoko Mursito selaku Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Kementerian Pekerjaan Umum (PU).



Parahnya kondisi jembatan saat ini, tentu saja membuat petugas harus bergerak cepat, mengingat lebaran tinggal menghitung hari. Pondasi jembatan dirasa sudah terlalu rapuh dan tidak dapat menopang kendaraan yang melewatinya. Namun perbaikan pondasi tentunya tidaklah sebentar, karena mmbutuhkan waktu yang cukup lama. Maka dari itu akan dipersiapkan rangka jembatan darurat. Dimana jembatan darurat tersebut akan dipasang disebelah lokasi jembatan yang amblas.

Djoko Mursito juga mengatakan bahwa pemasangan jembatan darurat tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Diperkirakan lima hari sudah dapat digunakan, karena meskipun jembatan tersebut jembatan darurat, namun dapat kuat menampung arus lalu lintas ketika mudik lebaran. Selama proses perbaikan jembatan, kendaraan tidak diperbolehkan untuk lewat. Arus lalu lintas yang menuju semarang akan dialihkan ke jalur selatan yakni melewati Tegal.

Selain itu, kementrian PU juga berencana akan membangun kembali jalur Pantura dengan dibeton. Hal ini untuk mengurangi kerusakan jalan Pantura yang selalu terjadi setiap tahunnya.  Kerusakan di Pantura disebabkan karena banyaknya kendaraan yang melintas, selain itu jalan Pantura memiliki visi rasio yang buruk.

Peta jalur alternatif yang tersedia untuk menghindari Jembatan Comal terdiri atas banyak jalur. Jalur-jalur tersebut meliputi jalur pertama dari Asemdoyong ke Tegalmlati; jalur kedua, Tegalmlati-Jatiredjo; jalur ketiga, Prompong-Ambo Kulon; jalur keempat, Ambo Wetan-Pasar Uli; jalur kelima, pos Sipait-pospam Comal; jalur keenam, pospam Comal-Ujunggede; dan jalur ketujuh, Ujunggede-Banjardawa.

Untuk kendaraan roda dua yang berasal dari arah timur, di Jalan Ahmad Yani membelok kanan melewati perempatan Ismoyo, kemudian lurus ke pos polisi Comal. Pilihan lain adalah di perempatan Ismoyo lewat Jalan Raya Comal-Pemalang. Begitu juga sebaliknya, jalur ini bisa dilewati sepeda motor dari arah barat. Jalur alternatif lain, dari Jalan Raya Comal bisa lewat Karangbrai, Desa Blimbing, kemudian kembali ke Jalan Raya Comal. Atau dari Desa Blimbing bisa langsung ke Jalan Gatot Subroto, Kota Pemalang. Dari Jalan Raya Comal atau Jalan Gatot Subroto juga bisa melewati Karangbrai, kemudian lewat Kesesi dan tembus Kajen, Pekalongan.

Menurut Djoko, visi rasio jalan yang baik rata-rata 0,6 persen. “Perbandingan volume kendaraan dan kapasitas jalan di Pantura sudah mencapai 0,7 sampai 0,8 persen,” tuturnya