Pengobatan Penyakit Lupus, Penyakit Seribu Wajah. Lupus merupakan penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang keliru sehingga mulai menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Inflamasi akibat lupus dapat menyerang berbagai bagian tubuh.

Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE) tidak bisa disembuhkan. Tujuan pengobatan yang tersedia adalah untuk mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ dalam, serta meminimalkan dampaknya pada kehidupan penderita SLE.


Menghindari Paparan Sinar Matahari

Melindungi kulit dari sinar matahari sangatlah penting bagi penderita SLE. Ruam pada kulit yang dialami penderita SLE dapat bertambah parah jika terpapar sinar matahari. Langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengenakan pakaian yang menutupi seluruh bagian kulit.
  • Memakai topi dan kacamata hitam.
  • Mengoleskan tabir surya berdosis tinggi agar kulit tidak terbakar matahari.

Meski demikian, tidak semua penderita lupus sensitif terhadap sinar matahari. Ada juga yang tidak perlu menerapkan langkah-langkah di atas.

Pengobatan khusus mungkin tidak dibutuhkan oleh penderita SLE dengan gejala ringan, tetapi mereka umumnya tetap memerlukan obat-obatan untuk menangani gejalanya. Berikut adalah obat-obatan yang mungkin dibutuhkan oleh penderita SLE.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Lupus, Penyakit Seribu Wajah

Obat anti inflamasi nonsteroid

Nyeri sendi atau otot merupakan salah satu gejala utama SLE. Dokter mungkin akan memberi obat anti inflamasi nonsteroid untuk mengurangi gejala ini.

Obat anti inflamasi nonsteroid adalah pereda sakit yang dapat mengurangi inflamasi yang terjadi pada tubuh. Jenis obat yang umumnya diberikan dokter pada penderita SLE meliputi ibuprofen, naproxen, diclofenac, dan piroxicam.

Jenis obat ini (terutama, ibuprofen) sudah dijual bebas dan dapat mengobati nyeri sendi atau otot yang ringan. Tetapi Anda membutuhkan obat dengan resep dokter jika mengalami nyeri sendi atau otot yang lebih parah.

Penderita SLE juga sebaiknya waspada karena obat ini tidak cocok jika mereka sedang atau pernah mengalami gangguan lambung, ginjal, atau hati. Obat ini juga mungkin tidak cocok untuk penderita asma.

Selain itu, anak-anak di bawah 16 tahun sebaiknya tidak meminum aspirin. Konsultasikanlah kepada dokter untuk menemukan obat anti inflamasi nonsteroid yang cocok untuk Anda.

Konsumsi obat anti inflamasi nonsteroid dosis tinggi atau jangka panjang dapat mengakibatkan pendarahan dalam karena rusaknya dinding lambung. Karena itu, dokter akan memantau kondisi penderita SLE yang harus mengkonsumsinya untuk jangka panjang dengan cermat. Jika komplikasi ini memang terjadi, dokter akan menganjurkan pilihan lain.

Kortikosteroid

Kortikosteroid dapat mengurangi inflamasi dengan cepat dan efektif. Obat ini biasanya diberikan oleh dokter jika penderita SLE mengalami gejala atau serangan yang parah.

Untuk mengendalikan gejala serta serangan, tahap awal pemberian obat ini mungkin akan berdosis tinggi. Lalu dosisnya diturunkan secara bertahap seiring kondisi penderita yang membaik.

Kortikosteroid selalu diberikan dengan dosis terendah yang efektif. Dosis tinggi serta konsumsi jangka panjang obat ini dapat menyebabkan efek samping yang meliputi penipisan tulang, penipisan kulit, bertambahnya berat badan, dan peningkatan tekanan darah tinggi.

Cara meminimalisasi efek samping steroid adalah dengan menyesuaikan dosis steroid dengan aktivitas penyakit sambil mengendalikannya secara efektif. Selama Anda mengikuti resep dan diawasi oleh dokter, kortikosteroid termasuk obat yang aman untuk digunakan

Hydroxychloroquine

Selain pernah digunakan untuk menangani malaria, obat ini juga efektif untuk mengobati beberapa gejala utama SLE. Di antaranya:

  • Nyeri sendi dan otot
  • Kelelahan
  • Ruam pada kulit

Dokter spesialis umumnya menganjurkan konsumsi obat ini untuk jangka panjang bagi penderita SLE. Tujuannya adalah untuk:

  • Mencegah serangan yang parah.
  • Mengendalikan gejala.
  • Mencegah perkembangan komplikasi yang lebih serius.

Keefektifan hydroxychloroquine biasa akan dirasakan penderita SLE setelah mengonsumsinya selama 1,5-3 bulan.

Tetapi semua obat tetap memiliki efek samping, termasuk hydroxychloroquine. Di antaranya adalah gangguan pencernaan, diare, sakit kepala, dan ruam pada kulit.

Obat ini juga memiliki efek samping lain yang lebih serius, tetapi sangat jarang terjadi. Contohnya, diperkirakan terdapat risiko 1:2000 di antara penderita SLE yang mengonsumsi obat ini yang mungkin mengalami kerusakan mata. Karena sangat jarang, pemeriksaan mata secara umum tidak diharuskan untuk semua penderita lupus yang mengonsumsi obat ini.

Segera konsultasikanlah kepada dokter jika Anda mengalami gangguan penglihatan selama mengonsumsi hydroxychloroquine.

Obat imunosupresan

Cara kerja obat ini adalah dengan menekan kinerja sistem kekebalan tubuh. Ada beberapa jenis imunosupresan yang biasanya diberikan dengan resep dokter, yaitu azathioprine, mycophenolate mofetil, dan cyclophosphamide.

Imunosupresan akan meringankan gejala SLE dengan membatasi kerusakan pada bagian-bagian tubuh yang sehat akibat serangan sistem kekebalan tubuh. Obat ini juga terkadang diberikan bersamaan dengan kortikosteroid. Jika dikombinasikan, keduanya dapat meringankan gejala SLE dengan lebih efektif. Penggunaan imunosupresan juga kemungkinan dapat mengurangi dosis kortikosteroid yang dibutuhkan penderita.

Imunosupresan termasuk obat yang sangat keras dan dapat menyebabkan efek samping sebagai berikut:

  • Kehilangan nafsu makan.
  • Pembengkakan gusi.
  • Kejang-kejang.
  • Mudah lebam atau berdarah.
  • Sakit kepala.
  • Bertambahnya berat badan.
  • Pertumbuhan rambut berlebihan.

Karena itu, obat ini biasanya diberikan dengan resep dokter hanya untuk penderita SLE yang mengalami gejala atau serangan yang parah. Segera konsultasikan kepada dokter jika ada efek samping yang terasa lebih mengganggu daripada manfaatnya. Dosis Anda mungkin perlu disesuaikan.

Tiap jenis imunosupresan menyebabkan efek samping yang berbeda-beda. Misalnya, mycophenolate dan cyclophosphamide dapat menyebabkan cacat lahir. Karena itu, penderita SLE wanita yang menggunakan kedua jenis obat ini dan aktif secara seksual dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang terjamin keampuhannya.

Bagi penderita SLE wanita yang berniat untuk punya anak, Anda dianjurkan untuk memilih obat lain (misalnya azathioprine). Anda juga dianjurkan untuk mengonsultasikannya terlebih dulu kepada dokter spesialis.

Kehamilan sebaiknya direncanakan pada saat gejala SLE Anda berkurang (masa remisi). Pemantauan saksama dari dokter spesialis serta dokter kandungan selama masa kehamilan berlangsung juga sangat penting.

Risiko terjadinya infeksi akan meningkat seiring dengan kinerja sistem kekebalan tubuh yang ditekan. Segera hubungi dokter jika Anda mengalami gejala infeksi karena Anda mungkin membutuhkan penanganan secepatnya untuk mencegah komplikasi yang serius.

Gejala infeksi terkadang mirip dengan serangan lupus dan meliputi:

  • Serangan batuk yang disertai dahak atau napas terengah-engah.
  • Demam tinggi (38ºC atau lebih).
  • Sensasi terbakar yang terasa saat buang air kecil.
  • Kencing darah (hematuria).

Hindarilah kontak dengan orang yang sedang mengalami infeksi seringan apa pun atau walau Anda sudah memiliki kekebalan tubuh terhadap infeksi tersebut, misalnya cacar air atau campak. Penularan tetap mungkin terjadi karena kinerja sistem kekebalan tubuh Anda sedang menurun karena ditekan oleh obat imunosupresan.

Imunosupresan juga dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Karena itu, Anda membutuhkan pemeriksaan kesehatan dan tes darah secara rutin selama menggunakan imunosupresan.

Rituximab

Jika obat-obat lain tidak mempan bagi penderita SLE, dokter akan menganjurkan rituximab. Obat ini termasuk jenis baru dan awalnya dikembangkan untuk menangani kanker darah tertentu, misalnya limfoma. Tetapi rituximab terbukti efektif untuk menangani penyakit autoimun, seperti SLE dan artritis reumatoid.

Cara kerja rituximab adalah dengan mengincar dan membunuh sel B. Ini adalah sel yang memproduksi antibodi yang menjadi pemicu gejala SLE. Obat ini akan dimasukkan melalui infus yang akan berlangsung selama beberapa jam. Selama proses pengobatan ini berlangsung, kondisi Anda akan dipantau dengan cermat.

Efek samping yang umum dari rituximab meliputi pusing, muntah, dan gejala yang mirip flu (misalnya menggigil dan demam tinggi selama pengobatan berlangsung). Efek samping lain yang mungkin terjadi (meski sangat jarang) adalah reaksi alergi. Reaksi ini umumnya muncul selama pengobatan berlangsung atau tidak lama setelahnya.

Ulasan diatas merupakan pengobatan bagi penderita penyakit lupus. Penyakit yang dijuluki penyakit seribu wajah ini memang memiliki gejala menyerupai penyakit lain. Namun anda juga harus waspada dengan penyakit ini. Semoga ulasan diatas bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang bagaimana pengobatan penyakit lupus. [YuQe – WartaSolo.com]