Stimulasi Kecerdasan EQ Anak. EQ atau Emotional Intelligence adalah kesadaran dan kemampuan untuk mengelola satu dari emosi secara sehat dan produktif dengan tepat. Itu artinya dibutuhkan IQ dan EQ yang seimbang dalam menjalani hidup ini. Kalau hanya IQ saja kita kurang bisa mempromosikan diri dalam suatu kerjaan. Tidak hanya itu saja untuk menghadapi tantangan hidup kita juga dituntut untuk mengelola EQ dengan baik. Jangan bangga bila mempunyai IQ tinggi tapi tidak diimbangi dengan EQ.

Sebuah penelitian menyebutkan, seorang anak yang memiliki EQ tinggi nantinya akan tumbuh menjadi anak yang popluer dan sukses di sekolahnya. Oleh karena itu para orangtua harus sadar, tidak hanya keterampilan teknis dan pengetahuan ilmiah, namun kemampuan pengendalian diri dan hidup di masyarakat juga sangat penting bagi tumbuh kembang anak. EQ sangat erat hubungannya dengan social anak dan kemampuan membawa diri.


Secara garis besar kecerdasan emosi ini terbagi dalam dua hal, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Terdapat empat ciri anak yang mempunyai EQ tinggi, yaitu dia mempunyai rasa tanggung jawab (responsibility), mempunyai motivasi untuk maju (self motivation), mampu mengontrol keseimbangan diri atau emosi (self regulation), dan mampu bekerjasama dengan oranglain (people skill). Berikut cara-cara yang bisa Anda gunakan untuk mengajarkan EQ pada anak Anda :


  • Hormati perasaan anak, tanpa harus memperlihatkan padanya bahwa sebenarnya Anda sendiri merasa kesulitan menangani emosi anak Anda. Belajarlah untuk menanganinya.
  • Ajari anak untuk mengungkapkan perasaan apa yang sedang ia rasakan pada saat itu.
  • Cobalah berbagi perasaan dengan anak, tetapi jangan libatkan anak-anak pada masalah yang sedang Anda hadapi. Cukup tunjukkan bahwa Anda pun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.
  • Menjadi panutan dalam menangani segala macam masalah yang sedang dihadapi. Jika Anda berteriak ketika sedang marah, maka sang anak pun akan mengikuti ”jejak” Anda.
  • Coba untuk lebih sensitif dengan mengetahui dan ikut merasakan apa yang sedang anak Anda rasakan.
  • Dengarkan curhatan mereka dan berikan feedback. Seperti mengucapkan, “Kamu kelihatan sedih. Apa ada yang ingin kamu bicarakan?”
  • Berikan waktu anak untuk mengatasi perasaannya. Jangan terlalu memaksa untuk memberitahukan apa yang sedang ia rasakan.. Biarkan semuanya berjalan secara perlahan.
  • Jangan sampai Anda terpancing emosi ketika menghadapi anak yang sedang marah.
  • Biarkan anak marah-marah dan menumpahkan semua emosinya, namun jangan sampai anak berperilaku buruk. Misalnya melempari atau memukuli Anda.

Karena Anda menjadi panutan yang baik dalam mengekspresikan sesuatu bagi anak, maka Anda harus mampu mengendalikan emosi dengan baik di depan anak. Jika Anda merasa tidak kuat menahan emosi lagi, Anda bisa menuliskannya di diary atau berbicara dengan suami, keluarga atau kerabat terdekat. Jangan meluapkan emosi didepan anak, sebaiknya menyingkir dulu dari hadapan anak apabila akan meluapkan emosi. Ingat anak adalah perekam yang sangat kuat, apapun yang kita lakukan dapat terekam oleh memori anak.

Berilah anak tanggung jawab dalam rumah, bagaimanapun penyelesaiannya nanti itu sudah menjadi tanggung jawab anak. Kita tidak boleh masuk kedalam tanggung jawab anak tugas kita hanya menjadi pendengar yang baik dan memotivasi anak untuk meyelesaikan permasalahannya. Biarkan anak yang memecahkan permasalahannya sendiri. Anak akan belajar dari hal yang kecil. Semoga ulasan diatas bermanfaat. [Yuni – WartaSolo.com]