Mengenang Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) 23 Mei 1920. Pada bulan Mei 1945, Sneevelit, Bransteder, dan Bergsma dari Belanda mendirikan Indhise Sosial Demokratische Vereviging (ISDV) di Semarang. Pendirian ISDV ini dapat dipandang sebagai usaha pertama kali memasukkan ajaran Maxisme pada masyarakat Indonesia.

Pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dipimpin oleh Semaun, Darsono, Alimin, Muso, dkk. Para tokoh pendiri PKI ini rata-rata adalah murid dari HOS Tjokroaminoto. Semaun dan Darsono adalah orang-orang SI yang berhasil dipengaruhi masuk ISDV. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa PKI ini merupakan pecahan atau sempalan dari SI yang bergaris keras aliran kiri (komunis). Waktu itu dikenal adanya dua kubu yang saling berebut pengaruh yang disebutnya Sjarekat Islam Putih (SI Putih) dan Sjarekat Islam Merah (SI Merah).



Pertentangan antara dua kubu, Sjarekat Islam Outih dan Merah yang selama ini ditutupi akhirnya tidak terbendungkan lagi setelah diadakan Kongres PKI pertama di Semarang pada 24 sampai 25 Desember 1921. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat sejak tanggal 24 Desember 1920, PKI berafiliasi dengan Komunis Internasional yang anti Pan-Islamisme.

Pada tahun 1926-1927, PKI melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia-Belanda, terjadilah pemberontakan bersenjata pada 13 november 1926 di Jakarta yang disebutnya sebagai Pemberontakan 1926, dirancang antara lain oleh Sardjono, Budi, Soegono, dkk. Diikuti oleh tindakan kekerasan dimana-mana, antara lain di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatra Barat. Pemberontakan ini gagal karena massa PKI belum siap, lagi pula tidak mendapatkan dukungan dari para pemimpin cabang-cabang PKI diseluruh Indonesia.

Akibatnya, terjadilah penangkapan besar-besaran oleh pemerintah Hindia-Belanda terhadap para tokoh PKI, yang kemudian dibuang ke berbagai daerah terisolir, khususnya ke Boven Digul (Tanah Merah). Dan sejak tanggak 23 Maret 1928, PKI dan seluruh underbownya-Sjarekat Rakyat- dinyatakan sebagai partai terlarang oleh pemerintahan Hindia-Belanda.

Pada awal kiprahnya, sebenarnya PKI dalam waktu singkat mendapatkan dukungan massa yang cukup besar. Menurut catatan Syafi’ie Ma’arif, dalam tempo yang relatif singkat PKI telah berkembang pesat, baik dalam bidang organisasi maupun dalam usaha memasyarakatkan ideologi Marxisme/Komunis. Partai ini tidak hanya berhasil mempengaruhi massa rakyat, tetapi juga berhasil dalam memikat kaum intelektual Indonesia, terutama dengan nemperkenalkan analisis Lenin dan Bucharin tentang imperialisme sebagai tingkat terakhir dari kapitalisme, Akan tetapi, tidak diduga tiba-tiba PKI membuat satu blunder, melakukan pemberontakan, tanpa persiapan matang, pda tahun 1926-1927. Seandainya pemberontakan itu tidak terjadi, sangat mungkin PKI akan menjadi pelopor penerus dalam perjuangan anti Kolonialisme/Imperialisme sebelum Perang Dunia Kedua. Setelah kejadian Pemberontakan itu, PKI menghilang dari peredaran politik, dan baru aktif kembali, sdejak 1927-1945, aktualisasi ideologi Marxis murni absen dari gerakan politik di Indonesia. Namun, celakanya lagi, setelah sekian lama tidak terdengar gregetnya sebagai gerakan politik, PKI secara tiba-tiba pada tahun 1948, memanfaatkan situasi keruh dengan melakukan kudeta terhadap pemerintahan Republik indonesia di Madiun (Madiun Affair/peristiwa 48), padahal pemerintahan Indonesia setelah menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. [Om_brew-WartaSolo.com}